Announcement

Bedah Buku yang bertema Menyoal Status Agama-agama Pra Islam Karya dari Dr. KH. Sa’dullah Affandy

Bedah Buku yang bertema Menyoal Status Agama-agama Pra Islam Karya dari Dr. KH. Sa’dullah Affandy

 

Pada hari Jum’at tanggal 25 Juni 2021, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya mengadakan acara Seminar dan Bedah Buku yang bertema Menyoal Status Agama-agama Pra Islam Karya dari Dr. KH. Sa’dullah Affandy. Acara di platform Zoom dan Youtube live ini dimulai pada pukul 13.00 WIB-16:00 WIB dan dihadiri oleh 237 peserta yang berasal dari lingkungan internal dan eksternal Universitas Islam Negeri  Sunan Ampel Surabaya.

Turut hadir dalam acara tersebut rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Prof. H. Masdar Hilmy, S.Ag., M.A, Ph.D. sebagai pembuka acara. Beliau memberikan apresiasi dan berharap kegiatan tersebut bisa menginspirasi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat serta fakultas lain untuk mengembangkan ekosistem akademik melalui kajian-kajian yang bersifat akademik  dan bisa memberikan inspirasi-inspirasi di lingkungan internal UINSA maupun memberikan dampak syiar akademik secara eksternal.

Sebelum kegiatan bedah buku dimulai, Dr. H. Kunawi, M.Ag. selaku dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya turut memberikan sambutan. Beliau menuturkan bahwa sudah sekitar sepuluh tahun menunggu referensi atau buku-buku yang membahas tentang corak peribadatan agama-agama pra Islam. Adanya kegiatan bedah buku tersebut merupakan kesempatan yang luar biasa dan mungkin bisa menjawab berbagai pertanyaan yang selama ini belum terjawab. Dr. H. Kunawi, M.Ag. menyambut baik dan berterimakasih kepada para Narasumber dan peserta bedah buku yang telah hadir pada acara ini.

Penulis Buku Menyoal Status Agama-agama Pra-Islam Dr. KH. Sa’dullah Affandy, M.Ag. menuturkan “Semua agama memiliki kesempurnaan, karena ia menyimpan serta membawa visi dan misi Ilahiah yang berkenaan dengan capaian-capaian kesempurnaan manusia, baik secara individu maupun sosial. Munculnya setiap agama di tengah situasi masyarakat memang membutuhkan pencerahan, sehingga mampu membentuk individu dan masyarakat par excellence”.

Narasumber kedua Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen, MA. Ketua STAI Al-Anwar Sarang sekaligus Pengasuh PP. Al-Anwar 3 menjelaskan bahwa, agama nabi Muhammad Saw. Itu meneruskan wasiat atau wahyu-wahyu yang disampaikan oleh nabi-nabi Ulul Azmi sebelumnya, jadi tidak me-nasakh. Tapi, agama sebelumnya itu mengandung hal-hal yang bersifat Ushuluddin yang disebut khobar, dan khobar tidak mungkin di-nasakh. Aqidah semuanya bersifat khobariy, sejak nabi Adam As. hingga nabi Muhammmad Saw. semua aqidah bersifat khobariy. Karena semua aqidah bersifat khobariy, maka Islam yang dibawa nabi Muhammad Saw. tidak me-nasakh kabar-kabar nabi sebelumnya. Kalau me-naskh berarti kabar nabi sebelumnya itu bohong”.

Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si. Guru Besar Sosiologi UIN Sunan Ampel Surabaya, menambahkan “Setiap agama pasti punya doktrin keselamatan, hanya yang berbeda cara memperoleh keselamatan”. Kemudian beliau menegaskan “agama benar bagi pemeluknya, pemeluknya yang menyatakan benar. Tetapi jangan memaksakan kebenaran itu pada yang lain.”

Penulis: Latifah Anwar, M.Ag.