UINSA Column

Indahnya Perdamaian

Indahnya Perdamaian

Oleh: Dr. Wasid, SS., M.Fil.I (Sekretaris Pusat Ma'had Al-Jami'ah UINSA)

Dalam kehidupan, hampir tidak ada orang -dengan status sosial yang berbeda-beda sekalipun- tidak mendambakan damai dalam  hidupnya. Pasalnya, kehidupan damai akan menyebabkan dirinya akan tenang dalam beraktivitas; tenang tidur, makan dan aktivitas lainnya. Bahkan, tenang dalam beribadah sebab tidak ada ancaman atau teror.

Tapi, egoisme yang kuat, atau karena dorongan nafsu terkadang menjadi pemantik munculnya konflik. Bisa jadi orang yang sudah berkecukupan, bisa menjadi penyebab konflik sebab ia hanya memikirkan diri sendiri, keluarga atau kelompoknya. Apalagi, orang yang sulit dalam kehidupannya. Hanya saja, penyebab konflik bukan hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tapi lebih pada kondisi batin dalam memaknai hidup untuk diri sendiri, orang lain atau dalam konteks kehidupan berbangsa.

Karenanya, mengajak berdamai adalah tugas mulia setiap individu. Tugas ini mengingatkan al-Qur'an Surat al-Hujurat, ayat 9 yang berbunyi:
وَإنْ طائِفَتانِ مِنَ المُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فأصْلِحُوا بيْنَهُما

"Dan bila ada dua golongan dari orang-orang yang beriman terjadi peperangan, maka maka damaikan keduanya"

Berdasarkan sebab turunnya ayat di atas, kata "perang" atau Qotl tidak harus terkait perang, tapi lebih pada praktik hidup yang berkaitan dengan konflik individu atau kelompok, bisa karena kontestasi politik, dan urusan keduniaan lainnya. Pasalnya, ayat ini turun karena pertengkaran yang melibatkan dua orang disebabkan karena bahu himar. Atas inisiasi sahabat-sahabat Nabi lainnya,  akhirnya pertengkaran dua sahabat ini dapat dilerai hingga damai.

Dengan begitu, yang kita lakukan ketika ada pertengkaran atau konflik antar sesama adalah mendamaikan pihak-pihak yang terlibat. Sudah saatnya --sebagai Mukmin yang baik-- untuk tidak terlibat dalam konflik dengan membuat kondisi konflik semakin  memanas melalui sikap atau pernyataan-pernyataan emosional yang tidak mendidik, lebih-lebih pernyataan penuh provokatif.

Jadi, akal sehat dan kesadaran itu yang memandu sebab bagaimana tatanan dunia ini akan baik, bila konflik terus terjadi dan antar sesama anak bangsa saling tebgkar. Alih-alih membangun bangsa dari ekonomi, budaya hingga pendidikan, penguasa akan disibukkan mencari jalan agar rekonsiliasi antar mereka yang konflik bisa terjadi dengan segera. Dan situasi damai akan menjadi impian bersama.

Kaitan dengan ini pula, khususnya untuk kebaikan dunia dan akhirat   imam Mawardi (364-450  H)  dalam bukunya Adab al-Dunya wa al-Din menjelaskan dengan  mengutip ahli hikmah --halaman 134- sebagaimana berikut:
الأدب أدبان : أدب شريعة وأدب سياسة. فأدب الشريعة ما أدى الفرض. وأدب السياسة: ما عمر الأرض. وكلاهما يرجع إلى العدل الذي به سلامة السلطان وعمارة البلدان. لأن من ترك الفرض فقد ظلم نفسه. ومن خرب الأرض فقد ظلم غيره.

"Tatakrama -hidup- ada dua. Tatakrama syariat dan tatakrama politik. Adapun tatakrama syariat adalah berujung pada kewajiban. Sementara tatakrama politik adalah berujung pada kemakmuran bumi. Keduanya kembali pada prinsip keadilan untuk menjaga keselamatan penguasa sekaligus kemakmuran negara"

Paparan Imam Mawardi ini menarik agar kita berhati-hati dalam hidup, baik sebagai individu maupun dalam bersosial. Memperhatikan aturan agama di satu sisi dan aturan interaksi sesama anak bangsa dalam ruang sosial -yang telah disepakati di sisi yang berbeda-- akan memberikan dampak kebaikan dalam hidup (sholahun fi al-hayat). Pastinya, prinsip-prinsip keadilan harus menjadi dasar dalam berkehidupan, termasuk dalam menyikapi perbedaan 

Itu artinya, jika hal tersebut tidak diperhatikan akan muncul individu yang dholim pada dirinya sendiri, yang dalam waktu tertentu merusak tatanan jagat raya. Lantas, jika tidak ada kepedulian, maka dipastikan ada tindakan lain (dholim) yang dapat merugikan orang lain. Akhirnya, stabilitas kehidupan tidak tenang sebab semua bergerak untuk kepuasan individu atau kelompok.

Oleh karenanya, maraknya demo di Jakarta kaitan dengan hasil pemilu perlu mendinginkan suasana agar situasi damai di negeri ini terus terjaga dengan baik sampai kapanpun. Perdamaian pasti didambakan semua mayoritas anak bangsa sebab dengan itu situasi tenang, dan orang beraktifitas bisa sempurna. Pastinya, kita semua harus kembali pada tatakrama kehidupan berbangsa secara politik dengan memperhatikan nilai-nilai dan aturan main yang telah disepakati (adab siyasah).

Pada konteks yang berbeda, mereka yang bermain di dunia maya (FB, WAG, Youtobe, dan lain) harus memulai menahan diri untuk ikut menciptakan situasi damai, bukan malah menyulut situasi mengarah pada konflik dengan pernyataan-pernyataan yang tidak jelas, atau gambar-gambar provokatif dan lain-lainnya.

Dengan begitu kita ikut berinvestasi bagi perdamaian dunia. Sekecil apapun peran kita untuk perdamaian akan memberikan makna bagi kehidupan manusia. Mengingatkan pesan Nabi Muhammad: "Sungguh jangan sekali-kali menghina kebaikan sekecil apapun" (la tahqiranna syaian min al-Ma'ruf). Amin.

Sumber gambar: Nusantara News