UINSA Column

Merubah Tradisi Akademik dari Lisan ke Tulisan

Merubah Tradisi Akademik dari Lisan ke Tulisan

Tulisan ini merupakan refleksi pribadi penulis, bukan merupakan suatu kajian ilmiah yang dilakukan dengan telah literatur secara hati-hati. Asumsi-asumsi yang disampaikan masih bersifat hipotesis sehingga hendaknya pembaca dapat menyikapi secara bijak.

Produktivitas kalangan akademik di lingkungan pendidikan di Indonesia menjadi perhatian serius dalam beberapa tahun terakhir. Direktorat pendidikan tinggi dan direktorak pendidikan tinggi islam, dua lembaga pemerintah yang menjadi otoritas pendidikan tinggi ramai-ramai mengadakan pelatihan publikasi karya ilmiah untuk dosen-dosen yang mengajar di kampus di bawah naungan kedua mbaga tersebut. Langkah untuk menggenjot produktivitas ini dilakukan setidaknya untuk mewujudkan target “world class university” dan mengejar ketertinggalan dalam hal jumlah publikasi dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapore, dan Thailand (Sumber di sini). Ada banyak variabel yang ditengarai menyebabkan ketertinggalan ini seperti kemampuan menulis dalam bahasa inggris, dana riset yang minim dan lain sebagainya. Akan tetapi ada hal yang relatif luput dari perhatian kita, yaitu tradisi lisan di kalangan akademik di Indonesia. Bagaimana pun juga publikasi tidak dapat dipisahkan dari kegiatan utama yaitu menulis. Tanpa adanya tradisi menulis yang kuat, sulit rasanya untuk mencapai jumlah publikasi yang diharapkan pemerintah.

Bila menengok ke belakang, dapat kita temukan bahwa tradisi tulisan tidak terlalu lekat dengan sejarah bangsa ini. Tradisi lisan lebih mendominasi dalam hal ini. Jumlah teks-teks kuno yang dapat menceritakan generasi saat ini mengenai kejayaan kerajaan nusantara di masa lalu lebih sedikit ketimbang dongeng, mitos, maupun legenda yang tersebar di masyarakat secara mulut ke mulut. Hal ini menggambarkan bahwa tradisi lisan jauh lebih mengakar di bandingkan dengan tradisi tulisan dalam sejarah bangsa ini. Bisa jadi, tokoh-tokoh di abad kejayaan nusantara yang mahir dalam hal filsafat dll jumlahnya cukup banyak, tetapi karena gagasan-gagasan mereka tidak terbukukan dan hanya lewat mulut ke mulut, maka lama kelamaan hilang dan tidak dapat kita temukan saat ini. Salah satu contoh nyata menurut saya adalah mengenai ‘Pemikiran Ki Ageng Suryomentaram’. Pemikiran-pemikirannya berhasil dibukukan, tetapi bukan beliau sendiri yang menulis buku tersebut, melainkan salah seorang murid yang secara aktif mengikuti kajian-kajian Ki Ageng dari satu kampung ke kampung yang lain. Bahkan tidak semua wejangan-wejangan tersebut berhasil tercatat.

Kembali ke dunia akademik, tradisi lisan di perguruan tinggi masih dapat dikatakan dominan. Beberapa wujudnya antara lain ujian lisan, konsultasi face to face dengan dosen, presentasi tesis atau skripsi, dan penilaian yang berdasarkan keaktifan dan presentasi dikelas. Meskipun tradisi-tradisi ini tidak dapat sepenuhnya dihilangkan, tetapi seharusnya dapat diganti dengan tradisi tulis. Misalnya, untuk evaluasi pemahaman terhadap materi yang disampaikan tidak perlu menggunakan ujian lisan jika memang ujian tertulis yang terstandar dengan penilaian obyektif dapat dilakukan. Konsultasi face to face mungkin dapat menjadi ajang silaturahim. Tetapi berdasarkan pengalaman pribadi ketika dulu menjadi mahasiswa, kebanyakan dilakukan secara spontan tanpa membuat janji terlebih dahulu. Jika membuat janji mungkin sifatnya informal melalui SMS ataupun sosial media. Kebiasaan ini dapat diganti dengan misalnya membuat janji dengan dosen melalui email. Bukan untuk merenggangkan silaturahim atau menjadi sangat birokratis, tapi untuk membiasakan mahasiswa merangkai kata-kata formal.

Kegiatan lainnya misalnya, presentasi di kelas juga merupakan tradisi lisan yang tidak dapat dihilangkan. Tetapi bobot penilaiannya seharusnya lebih rendah dari makalah yang dipresentasikan bukan sebaliknya lebih tinggi. Bisa saja mahasiswa jago dalam berceramah, tapi sebenarnya makalahnya acak-acak an. Demikian juga dengan tugas akhir. Skripsi atau tesis merupakan sebuah karya tulis ilmiah yang harus diselesaikan untuk memperoleh jenjang sarjana/master. Namanya karya tulis, seharusnya bobot utamanya adalah di tulisan, bukan sebaliknya di presentasi yang dilakukan dalam ujian skripsi/tesis tersebut. Karya tulis yang bagus hendaknya sudah cukup memberi pemahaman kepada pembaca tanpa perlu adanya klarifikasi secara lisan dari penulisnya. Sehingga menurut pendapat pribadi saya, tidak perlu ada ujian lisan skripsi atau tesis, karena esensinya ada di tulisan. Hanya saja memang bagaimana melakukan penilaian yang obyektif dan terstandar terhadap karya tulis tersebut merupakan tantangan tersendiri misalnya tes plagiarisme dsb. Bagaimana pun kelak di level akademik yang lebih tinggi, misalnya ketika mensubmit paper ke sebuah jurnal atau media lainnya, editor akan melakukan evaluasi berdasarkan tulisan bukan meminta untuk penulis untuk presentasi. Klarifikasi dan komunikasi apapun ke penulis juga dilakukan secara tertulis.

Pada akhirnya memang hal-hal kecil yang disebutkan di atas saja tidaklah cukup untuk mendongkrak produktivitas dosen atau mahasiswa secara signifikan. Akan tetapi, langkah-langkah tersebut merupakan hal yang krusial sebagai komitmen kita untuk melahirkan karya-karya tulis yang tidak hanya mumpuni secara kuantitas tetapi juga kualitas. Wallahu a'lam.