Sejarah Kelembagaan Pascasarjana

 

Direktur Pascasarjana dari Waktu ke Waktu

Sejarah Perkembangan Pascasarjana

Pascasarjana UIN Sunan Ampel yang berdiri pada 1 Agustus 1994 berdasarkan SK Menteri Agama no. 286/1994 Tanggal 1-08-1994 saat ini telah melewati usia 25 tahun. Dalam kurun waktu 25 tahun ini, banyak hal yang telah dilalui oleh Pascasarjana, misalnya didirikannya Program Doktor, ber­kembangnya Program Studi dari satu Program Studi (Dirasah Islamiyah atau Ilmu Keislaman) menjadi 14 Program Studi (4 Doktor, 10 Magister), dilakukannya sejumlah riset, kerjasama, maupun kegiatan seminar, komperensi, colloqium, dan program-program pengembangan, baik di level nasional maupun internasional.

Dalam aspek Tri Dharma Perguruan Tinggi, Pascasarjana sudah seharusnya menjadi center of excellence. Hal ter­sebut bisa tercermin pada alumni Pascasarjana yang memenuhi standar akademik yang ditentukan. Misalnya, untuk mahasiswa Magister harus memiliki publikasi di jurnal nasional dan mahasiswa Doktor di jurnal internasional. Tujuannya adalah untuk memenuhi standar akademik, sekaligus mengangkat reputasi akademik universitas.

Di bidang pendidikan atau pembelajaran, Pascasarjana UIN Sunan Ampel melihat pentingnya pendekatan inter­disipliner dan transdisipliner bagi karya akademik seperti tesis dan disertasi. Dalam konteks ilmu-ilmu keislaman, hal ini akan memperkaya analisis, sekaligus memberi konsekuensi bagi pengajar Pascasarjana untuk memiliki pengetahuan yang luas tentang ilmu-ilmu keislaman dan penguasaan teori-teori sosial atau pendekatan sosiologis, antropologis, politik, serta penguasaan metodologi ilmiah. Dengan demikian, pendekatan multidisipliner, interdisipliner dan transdisipliner di Pascasarjana UIN Sunan Ampel harus dibangun mulai dari sumberdaya manusia pengajar, mahasiswa, dan produk karya ilmiah, baik tesis, disertasi, maupun publikasi lainnya.

Di sisi lain, pengembangan Perguruan tinggi di era sekarang meniscayakan pentingnya kerjasama. Ini dilakukan untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi karena persaingan pada tingkat global semakin ketat. Dalam persaingan demikian ini, yang diperlukan adalah kerjasama dan kolaborasi antar universitas dan lembaga yang menunjang peningkatan mutu akademik. Masing-masing perguruan tinggi memiliki kelebihan dan keunggulan tersendiri, dan pengalaman setiap perguruan tinggi dapat di-share melalui kejasama atau kolaborasi di bidang riset dan publikasi.  Selain itu, kerjasama dan kolaborasi dilakukan untuk mengembangkan Tri Darma Perguruan Tinggi yang menitikberatkan pada pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Terkait publikasi, Pascasarjana memiliki jurnal Islamica yang telah terakreditasi (Sinta 2), dan terus meningkatkan mutu publikasi dan tata kelolanya untuk mencapai Sinta 1. Jurnal merupakan nafas Perguruan Tinggi yang perlu dirawat dan dikembangkan. Jurnal juga sangat penting bagi proses pengajaran dan penulisan disertasi atau tesis, karena jurnal memuat pengetahuan mutakhir yang dihasilkan dari riset-riset dengan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Kemajuan dunia digital telah memungkinkan dosen dan mahasiswa Pascasarjana untuk mengakses jurnal dari pelbagai belahan dunia.

Pengembangan kompetensi mahasiswa juga menjadi concern pengelola Pascasarjana. Pelbagai pelatihan dan workshop untuk menunjang pembelajaran telah dilakukan, seperti metodologi penelitian, penulisan artikel jurnal bereputasi, penulisan naskah ilmiah, dan beberapa pengembangan yang berbasis pada keilmuan di masing-masing prodi. Semuanya dilakukan dalam rangka mempersiapkan mahasiswa agar memiliki skill yang di­butuhkan, baik sebagai mahasiswa maupun sebagai lulusan.

Dalam rangka pengembangan Program Studi, Pascasarjana juga melaksanakan program-program dan kegiatan-kegiatan, seperti review kurikulum, seminar, konperensi, simposium, kuliah tamu, riset kolaboratif, dan studi banding. Dengan jumlah 14 program studi, Pascasarjana telah tumbuh menjadi unit yang besar di UIN Sunan Ampel, sehingga selalu sibuk dengan beragam kegiatan. Karenanya, di samping pengelola di level program studi, jumlah pimpinan Pascasarjana yang terdiri dari Direktur dan Wakil Direktur dituntut bekerja keras untuk mengelola dengan baik Pascasarjana yang semakin kompleks permasalahannya. Di level tenaga kependidikan (Tendik) Pascasarjana memiliki satu Kepala Sub-Bagian (Kasubbag) yang harus mengelola urusan administrasi akademik, keuangan dan administrasi program atau kegiatan Pascasarjana.

Terlepas dari pelbagai problematika di Pascasarjana, lembaga ini memiliki komitmen tinggi untuk terus melakukan pembenahan, baik dari aspek administratif berupa penataan administrasi akademik, penataan kurikulum yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat, maupun pengembangan kerjasama untuk lebih memberikan bobot internasional sebagaimana yang dicita-citakan oleh visi UIN maupun Pascasarjana. Komitmen ini yang penting untuk dijaga dan dikembangkan di seluruh elemen pengelola Pascasarjana.

 

1. Era Prof. Harun Nasution, Pascasarjana Berdiri

Masa Jabatan                : 1994 – 1997

Asisten Direktur            : Prof. Roem Rowi

 

Data tentang Pascasarjana di era Prof Harun Nasution didapatkan dari Prof. Roem Rowi. Prof. Roem adalah Asisten Direktur Pascasarjana pertama di era direktur Prof. Harun Nasution yang menjabat sejak tahun 1994-1997. Beliau menangani Pascasarjana dengan Drs. Muktafi, M.Ag  dan Ruhayati, serta pernah juga dibantu oleh Prof. Sonhaji sekembalinya dari McGill University yang menjabat sebagai Sekretaris Pascasarjana saat itu.

Kegiatan Pascasarjana pada saat didirikan berpusat di gedung yang dulu dikenal dengan sebutan “gereja”, karena desain arsitektur bangunan tersebut mirip dengan gereja (saat ini menjadi kantin “Maqha” yang berada di belakang gedung Fakultas Syariah dan Hukum). Tes masuk program Magister menggunakan tes nasional dengan soal langsung dari Jakarta dengan ketentuan pada saat lulus mahasiswa ber­sedia ditempatkan dimana saja. Contohnya, mahasiswa dari Surabaya tidak ditempatkan di Surabaya, bisa saja di Medan atau daerah yang lain. Karena memang program saat itu dibuat seperti itu untuk memudahkan dan untuk mempercepat kelulusan.

Kegiatan pendukung Pascasarjana waktu itu belum ada, hanya berkonsentrasi pada pengajaran saja. Saat itu mahasiswa hanya berjumlah 17 orang, karena memang itulah jumlah yang ditentukan. Oleh karena itu, seleksi masuknya sangat ketat, hampir 200 orang yang mengikuti seleksi namun hanya 17 yang diambil. Di era ini, Prof. Harun menekankan disiplin yang amat ketat. Contohnya, mahasiswa terlambat 10 menit saja,  tidak diperkenankan masuk kelas, dan apabila mahasiswa tidak masuk atau melanggar,  maka akan diberikan pe­ringatan kepada mahasiswa yang bersangkutan dan kepada lembaga yang mengirimnya. Untuk tesis juga berlaku sama seperti ujian masuk, di mana mahasiswa harus melasanakan ujian tesis tertulis kemudian dikirim ke Jakarta karena di Surabaya belum mengadakan ujian tesis sendiri.

Pada masa jabatan Prof. Harun dan Prof. Roem, belum banyak kerjasama yang dijalin.  Kerja­sama yang dilakukan adalah pengadaan dosen mata kuliah. Sebagai contoh dosen Hadits yang diambilkan dari LIPIA Jakarta, kemudian ada Prof. Syuhudi Ismail dari IAIN Makassar menjadi dosen terbang. Dosen-dosen tersebut mengajar di Pascasarjana karena jaringan keilmuan antara pengelola dan dosen yang bersangkutan pertemanan dengan Prof. Roem.

Di akhir wawancara dengan Prof. Roem, harapan yang dititipkan pada tim penyusun, agar Pascasarjana sekarang bisa berbicara di level nasional maupun inter­nasional. Dengan Sumber daya manusia yang ada saat ini, Prof. Roem yakin Pascasarjana bisa melaku­kannya.

 

2. Era Prof. Thoha Hamim, Membangun Kultur Akademis Pascasarjana

Masa Jabatan                  : 1997 – 2001

Asisten Direktur               : Prof. Achmad Jainuri, Prof. Roem Rowi

 

Prof Thoha Hamim menjabat Direktur Pascasarjana mulai tahun 1997–2001, didampingi oleh Prof. Jainuri sebagai Asisten Direktur 1 dan Prof. Roem Rowi sebagai Asisten Direktur 2. Data tentang Pascasarjana di era ini didapatkan dari Prof. Jainuri, disebabkan masalah kese­hatan yang dialami oleh Prof. Thoha.

Prof. Jainuri adalah salah satu civitas academica yang menjadi pelopor dalam pendirian Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya khususnya Pascasarjana program Doktoral.  Pascasarjana UIN Sunan Ampel berdiri pada tanggal 1 Agustus 1994, pada saat itu posisi beliau masih berada di Montreal tepatnya dari tahun 1990 sampai tahun 1997.

Namun hampir setiap tahun beliau menyempatkan diri untuk mengunjungi Pascasarjana UIN Sunan Ampel, tepatnya mengunjungi perpustakaan “gereja” yang juga menjadi tempat kuliah angkatan pertama Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Direktur Pascasarjana saat itu masih dirangkap oleh Prof Harun Nasution yang masih aktif hadir ke Pascasarjana-Pascasarjana termasuk ke UIN Sunan Ampel sedangkan administrasinya dipegang oleh Prof Roem. Tahun 1997 sekembalinya dari Montreal, Prof. Jainuri bergabung dengan Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya sampai pada tahun 2005. Direktur yang menjabat saat itu adalah Prof Thoha sampai tahun 2000.

Pada masa jabatan Prof. Thoha, proposal pengajuan pendirian program Doktoral sudah sempat diajukan, namun belum dikabulkan. Setelah Prof. Jainuri berga­bung, proposal tersebut disempurnakan. Setelah diajukan ternyata tidak berjalan mulus dan menemui hambatan, salah satunya adalah IAIN (UIN) Jakarta dan IAIN (UIN) Yogyakarta tidak setuju dengan proposal tersebut, dengan pertimbangan ketidaksiapan Pascasarjana di luar IAIN (UIN) Jakarta dan IAIN (UIN) Yogyakarta  secara akademik. Namun tidak cukup sampai disitu, Prof. Jainuri memaksakan proposal tersebut beserta kerangka Kurikulum Doktoral, yang berbeda dengan Jakarta dan Yogja. Sedangkan yang seharusnya adalah harus mengarah pada kompetensi khusus. Akhirnya Prof. Jainuri menggunakan tema lama dan merumuskan orientasi pada studi lapangan (empirik). Dengan landasan Jakarta berorientasi pada pemikiran dan Jogja pada metodologi kajian keagamaan, oleh karena itu Surabaya ingin menyempurnakannya dengan empirik yaitu lapangan pengabdian masyarakat.

Akhirnya Program Doktor ilmu keIslaman dibuka berdasarkan Keputusan Dirjen Kelembagaan Agama Islam No. E/250/2001 Tanggal 26-09-2001.

 

3. Era Prof. Syaichul Hadi Permono, Meraih Kepercayaan

Masa Jabatan                  : 2001 – 2005

Asisten Direktur               : Prof. Jainuri, Prof. Roem Rowi

 

Prof. Jainuri melanjutkan dengan perjuangan untuk memajukan Pascasarjana dengan melengkapi kekurangan, salah satunya dengan  perpustakaan yang didanai sekitar 66 juta yang digunakan untuk melengkapi buku-buku perpustakaan sehingga menjadi perpus­takaan Pascasarjana terbaik di Indonesia. Untuk kemajuan dosen, Prof. Jainuri masih berpegang dengan prinsip yang dulu dirancang bersama Prof. Thoha, bahwa Pascasarjana tidak akan menerima dosen dengan program khusus atau hanya research yang tidak kuliah reguler dengan alasan karena mereka yang by research ini tidak mengetahui bagaimana proses kuliah. Termasuk juga mereka yang secara akademik belum siap diterima.

Dalam segi kurikulum juga tetap dibenahi, dengan mempelajari kurikulum dari Perguruan Tinggi yang lain seperti UNAIR, untuk mata kuliah disertasi tersebut. Beliau menyadari bahwa UIN Sunan Ampel adalah institusi Islam yang melahirkan sarjana Islam yang diakui oleh masyarakat. Oleh karena itu, sejatinya untuk kelimuan Islam kita punya dan mengua­sainya, yang kurang hanya dari segi metodologi. Ini kemudian menginspirasi untuk mengundang yang berorientasi ke metodologi untuk mengambil metode kemasyarakatan.

Untuk menanggulangi lemahnya dalam memahami metodologi tersebut, diberlakukan Mata Kuliah Penunjang Disertasi (MKPD) dalam menulis Disertasi. Maha­siswa yang ingin menulis wajib mendapatkan teori yang bersangkutan dengan tulisannya di IAIN dan untuk metodologi didapatkan di luar IAIN, seperti di Jogja dan Jakarta melalui kerjasama antar dosen di institusi tersebut. Dengan urutan mata kuliah yang didapat semester pertama adalah dasar, kemudian semester kedua ditawarkan 12 mata kuliah, namun mahasiswa hanya mengambil 4 mata kuliah yang sesuai dengan kecenderungan mahasiswa. Kemudian terbentuklah kelas-kelas dengan kondisi berbeda-beda dan lebih terarah. Sedangkan untuk mahasiswa yang kurang mengetahui atau salah dalam penempatan kelas, dipanggil untuk menjelaskan alasannya.

Inilah yang disebut sekolah dalam payung besar Dirasah Islamiyah. Kemudian, disertasi mengerucut untuk memberikan pilihan kepada mahasiswa. Setelah diberlakukan hal tersebut, Malang mengirimkan mahasiswanya kurang lebih 40 mahasiswa setiap pendaftaran, dengan sistem yang mengikuti Islamic Studies yang dikembangkan Prof. Harun, yaitu sejarah peradaban Islam, Institusi Islam, Pemikiran Islam dan Perkembangan Modern dalam Islam, bisa terwujudkan.  Metode tersebut masih berlanjut dengan pengawalan Prof. Syaichul dan Prof. Jainuri.

Yang menjadi warisan dari era ini adalah reading list untuk ujian komprehensif (kualifikasi) sekitar 200 bacaan yang mencakup empat bidang keilmuan. Namun ini tidak berlangsung sampai sekarang. Sumber yang diajukan mahasiswa bukan sekedar dikoreksi namun diseleksi sehingga tidak asal-asalan. Ini juga tergantung academic advisor yang sejak awal sudah ditentukan untuk membimbing proses akade­mik.

 

4. Era Prof. Zahro

Masa Jabatan                  : 2010 – 2014

Wakil Direktur                  : Prof. Abd A’la, Prof. Ali Mufrodi, Prof. Khozin Affandi

 

Wibawa ujian yang tertib harus dapat dipertahankan, seperti pada masa beliau ketua sidang adalah rektor dan apabila rektor berhalangan maka sidang diundur, sehingga pada waktu itu beliau hanya bertugas sebagai sekretaris. Promotor juga semua berasal dari profesor sedangkan Doktor hanya bertindak sebagai co promotor. Harapan beliau untuk Pascasarjana adalah agar Pascasarjana bisa mengembalikan martabat Pascasarjana yang sudah dibangun dari dulu.

Pada masa beliau dulu juga terdapat MPA (Majelis Pertimbangan Agama) yang mengadakan sidang dua kali setiap tahun, namun karena terkendala anggaran sehingga MPA tidak berjalan lancar kembali.

 

5. Era Prof. Ridlwan Nasir, Melahirkan Kuantitas Master dan Doktor

Masa Jabatan                  : 2005 – 2009

Wakil Direktur                 : Prof. Burhan Djamaluddin, Prof. Zainul Arifin. Prof. Masdar Hilmi

 

Prof. Ridlwan menjabat sebagai direktur Pascasarjana pada masa jabatan 2010-2014 pada era kepemimpinan Prof. Nur Syam sebagai rektor. Dalam masa jabatan Prof. Ridlwan Nasirada beberapa kebijakan Direktoral Pendidikan Tinggi Islam yang telah ditetapkan, walaupun dirasa kurang maksimal dalam segi hasil. Salah satu usulan dari FORDIPAS (Forum Direktur Pascasarjana) yang diterima cukup baik diantaranya adalah diadakannya beberapa beasiswa untuk Program S-2 dan S-3. Sedangkan usulan yang belum terpenuhi adalah diikutsertakannya Direktur dan Asisten Direktur Pascasarjana dalam studi banding ke luar negeri sebagaimana yang telah dilakukan oleh UIN, IAIN dan para Ketua STAIN lainnya.

Ketidakikutsertaan Direktur dan Asisten Direktur Pascasarjana dalam studi banding seperti universitas Islam yang lainya bukanlah menjadi penghalang bagi Prof. Ridlwan Nasir untuk terus memajukan Pascasarjana, karena Pascasarjana menyediakan anggaran dana untuk memfasilitasi para Dosen yang ada di Pascasarjana untuk melakukan studi banding ke luar negeri. Sehingga dalam masa kepemimpinan Prof. Ridlwan Nasir Pascasarjana dapat memfasilitasi beberapa dosen dari berbagai bidang studi untuk melakukan studi banding dengan berbagai negara seperti Jerman, Turki, dan Iran. Anggaran dana yang berhasil disisihkan oleh Pascasarjana sekitar 5 Milyar, dimana dana tersebut didapatkan dari sisa proses belajar mengajar dan kebutuhan sarana prasarana, membeli mobil dinas dari pembayaran SPP S-2 sebesar Rp. 3.000.000,- dan S-3 sebesar Rp. 6.000.000,- dalam satu semester.

Adapun kebijakan dari IAIN kepada Pascasarjana pada saat itu juga cukup baik, sebab Pascasarjana dapat melaksanakan Proses Belajar Mengajar dengan lancar dan bisa mengajukan anggaran cukup baik bahkan mendapatkan prioritas tersendiri dibandingkan Fakultas. Bahkan dari pihak IAIN memberikan anggaran dana sejumah 60% untuk kantor pusat dan 40% untuk Fakultas. Jadi, pihak Pascasarjana bisa menggunakan perbandingan tersebut untuk mengolah anggaran yang diterima. Dalam pembagian struktur pengelola, Direktur Pascasarjana dibantu oleh tiga Asisten. Ketiga Asisten ini memiliki tugas masing-masing. Asisten Direktur I bertugas mengurusi bidang Pendidikan dan Pengajaran, Asisten Direktur II memiliki tugas dalam bidang Administrasi dan Umum, Asisten Direktur III memiliki tugas dalam bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama (baik Nasional maupun Internasional), dan yang terakhir adalah Kepala Sub Bagian Tata Usaha beserta staf-stafnya.

Kegiatan akademik yang tercapai sebelum era kepemimpinan Prof. Ridlwan Nasir terbilang masih belum mak­simal, dengan bukti bahwa tingkat wisuda Doktoralnya mencapai kurang dari 10 orang di setiap wisudanya. Sehingga Prof. Ridlwan Nasir mengevaluasi dengan cara mengumpulkan semua mahasiswa S-2 dan S-3 untuk mengadakan dialog dengan para Asisten Direktur. Sehing­ga dari dialog tersebut, diharapkan bisa menge­tahui problem tersebut dan berimbas pada kenaikan jumlah wisudawan khususnya S-3. Dari dialog tersebut, diperoleh hasil bahwa kurang fleksibelnya kalender akademik. Sehingga ditetapkan dua kebijakan yang pertama, ujian Kualifikasi, Ujian Proposal, Ujian Naskah­/Verifikasi, Ujian Tertutup/Terbuka dapat dillaksa­na­­kan kapan saja. Kedua, seluruh mahasiswa S-3 dibagi menjadi empat orang untuk setiap pembimbing dan dipantau perkembangannya oleh Direktur dan seluruh Asisten Direktur Pascasarjana. Setiap mahasiswa diwajib­kan untuk melaporkan perkembangan studinya kepada Direktur dan Asisten Direktur.

Pada masa kepemimpinan Prof. Ridlwan, Pascasarjana berhasil memiliki kerjasama baik secara nasional maupun internasional. Kerjasama yang telah terjalin di tingkan nasional diantaranya kerjasama dengan seluruh Pascasarjana yang ada di Indonesia (baik UIN, IAIN, dan STAIN). Kerjasama tersebut dapat terjalin karena pada saat itu, Prof. Ridlwan Nasirmenjabat sebagai ketua FORDIPNAS (Forum Direktur Pascasarjana Perguruan Tinggi Islam Negeri). Setiap kegiatan dalam Forum Kerjasama tersebut bergantian, antara pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, NTB, dan Ternate. Bentuk kerjasama antara lain sebagai narasumber dalam seminar, penguji Disertasi, dan lain sebagainya. Untuk meningkatkan akreditasi Doktoral dari periode sebelumnya, maka Prof. Ridlwan Nasir mendatangkan penguji untuk disertasi dari Universitas lain (UIN/IAIN/STAIN) sekaligus untuk penandatanganan MOU. Sedangkan kerjasama yang telah terjalin dengan perguruan tinggi internasional diantaranya dengan Malaysia, Turki, Jerman dan Thailand.

Adapun pencapaian yang telah diraih pada masa kepemimpinan Prof. Ridlwan Nasir diantaranya keberhasilan dalam meningkatkan jumlah lulusan S-3 (Doktoral). Sebab lulusan Program Dokotral pada masa jabatan sebelum Prof. Ridlwan Nasirberkisar antara 2-5 orang saja, namun setelah diadakan dialog antara mahasiswa dan Asisten Direktur jumlah lulusan pada wisudawan meningkat menjadi ≥50 orang. Dan jumlah wisudawannya terus meningkat pada tiap tahunnya, hingga tercatat pada akhir masa jabatan Prof. Ridlwan Nasir jumlah wisudawan khususnya S-3 berjumlah ≥300 orang.

Harapan dari Prof. Ridlwan Nasiruntuk Pascasarjana ke depan yang pertama, meningkatkan jumlah wisudawan di Pascasarjana dengan memperhatikan dan memper­timbangkan beberapa faktor di antaranya fleksibilitas kalender akademik. Kedua, menggunakan metode jemput bola dengan cara mewajibkan seluruh mahasiswa S-3 berkumpul untuk berdialog dan menulis laporan perkembangan studinya pada Asisten Direktur sehingga bisa terus terpantau perkembangan studinya dan akan diberikan peringatan agar bisa lulus tepat waktu. Ketiga, Direktur Pascasarjana diharapkan ikut terlibat dalam honorium dosen penguji karena dengan sistem remunisasi maka banyak hal samar (kurang jelas) yang diterima dari kegiatan yang telah dilakukan, sehingga dapat mem­berikan motivasi tersendiri untuk dosen yang bersang­kutan.

Pada akhir masa jabatan ini, terjadi transformasi konsentrasi menjadi Prodi berdasarkan keputusan Direktur Jendral Pendidikan Islam No. 2086/2013 tentang transformasi konsentrasi menjadi Program Studi pada IAIN Sunan Ampel Surabaya.

 

6. Era Prof. Husein Azis, Rintisan Kerjasama Internasional

Masa Jabatan                  : 2014 – 2018

Wakil Direktur              : Prof. Masdar Hilmy

 

Prof. Dr. Husein Aziz, M.Ag adalah Direktur Pascasarjana keenam yang menjabat setelah Prof Ridlwan Nasir sejak tahun 2014 sampai dengan tahun 2018 tepatnya pada masa Rektor Prof. A’la. Program baru yang dijalankan pada masa ini adalah pemisahan dari Dirasah Islamiyah atau dulu disebut Islamic Studies yang dibagi menjadi prodi-prodi tersendiri. Inilah yang menjadi tantangan di era beliau karena harus mengkaji ulang dan membuat kurikulum baru untuk persiapan akreditasi. Jumlah seluruh prodi ada 14, delapan prodi sudah terakreditasi sedangkan yang lima prodi belum ter­akreditasi. Dua prodi yang belum terakreditasi tersebut karena terkendala, sebenarnya sudah didaftarkan namun karena ada perpindahan gedung BANPT ke gedung baru, akhirnya berkas akreditasi tersebut hilang dan harus diganti dengan yang baru dan bertepatan dengan berlakunya sistem SAPTO sehingga secara administrasi sudah benar, hanya bertepatan dengan berlakunya sistem SAPTO tersebut sehingga prosesnya terhambat.

Tantangan yang lain pada masa kepemimpinan Prof. Husein sendiri adalah kebijakan kenaikan SPP. Hal ini sebenarnya tidak berdampak pada penurunan jumlah mahasiswa dikarenakan adanya beasiswa MORA dan MENPORA, sehingga Pascasarjana mendapatkan mahasiswa, yang awalnya 40 mahasiswa, kemudian di tahun selanjutnya mendapat 30 mahasiswa.

Kebijakan yang lain yang juga menunjang adalah perekrutan Kaprodi dan Sekprodi namun hal ini juga berdampak pada administrasi karena kurangnya tenaga kependidikan. Kemudian kebijakan tidak adanya wakil direktur kedua dan ketiga juga berdampak, karena penanganan lebih besar pada prodi yang semakin banyak dan mahasiswa juga lebih banyak menimbulkan berkurangnya pelayanan terhadap mahasiswa.

Kerjasama yang dijalin pada era Prof. Husein adalah dengan Universiti Sultan Zainul Abidin (UNISZA) Trengganu, Malaysia. Saat itu, beliau berkesempatan menjadi pembicara di depan 32 delegasi yang terbesar. Kemudian terjalin kerjasama dengan Universitas Maroko yang menghasilkan MoU dan penelitian Maqashid al-Syariah perbandingan UIN dan Maroko. Selain itu juga KBRI memberi kesempatan pada orang maroko untuk kuliah di Surabaya. Harapan Prof Husein untuk Pascasarjana kedepan semoga lebih baik dan menjadi pertemuan antara Barat dan Timur dan menjadi standar Internasional

 

7. Era Prof. Aswadi, Pembenahan Administrasi, Mengejar Inter­national Recognition dan Publikasi Bereputasi

Masa Jabatan            : 2018 – 2022

Wakil Direktur            : Dr. Ahmad Nur Fuad, MA

 

Kepemimpinan Direktur Prof. Dr. Aswadi, M.Ag. (2018-2022) dimulai sejak Juli 2018. Secara umum, kebijakan Pascasarjana diarahkan kepada pe-nguatan proses akademik dan pembelajaran, peningkatan kapasitas penelitian (research), penulisan dan publikasi karya ilmiah, berupa artikel jurnal terakreditasi, terindeks dan berepu­tasi. Selain itu, penguatan kelembagaan dilakukan me­lalui penataan organisasi, pendayagunaan sumber daya manusia secara efektif dan optimal, dan peningkatan kerjasama nasional dan internasional. Penataan dan penguatan sistem administrasi dan layanan administrasi akademik juga dilakukan secara berkelanjutan.

Untuk maksud tersebut, telah dilaksanakan kegiatan workshop pening-katan mutu akademik dan kelem­bagaan (akhir 2018). Dalam tahun 2019, penguatan kapa­­sitas dosen dalam publikasi artikel jurnal dilak­sanakan; demikian pula peningkatan kompetensi maha­siswa dalam penelitian dan penulisan tesis/disertasi, dan publikasi artikel jurnal. Kerjasama internasional diperkuat dengan universitas di dalam negeri dan luar negeri. Di dalam negeri, kerjasama dilakukan dengan UIN Mataram (bidang riset dan publikasi), Universitas Wachid Hasyim Semarang (Joint Seminar), Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar (Benchmarking), Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (pendidikan, penelitian dan pengabdian), sekaligus melanjutkan kerjasama dengan universitas-universitas lain yang telah memiliki MOU dengan UIN Sunan Ampel. Universitas di luar negeri yang mengadakan kerjasama dalam satu tahun terakhir ini ialah Universiti Sultan Zainal Abidin (Unisza) Trengganu, Malaysia, di bidang riset (joint research), dan simposium bersama (joint international symposium), tentang “Interdisciplinary Islamic Studies in Indonesia and Malaysia Reappraised.” Kunjungan mahasiswa dan dosen ke Unisza dilakukan untuk presentasi hasil riset dan konverensi internasional.

Kerjasama dalam negeri dengan instansi pemerintah dilaksanakan, dalam bentuk penyelenggaraan program beasiswa 5000 Doktor, program beasiswa Magister untuk Guru Pendidikan Agama Islam, khususnya Qur’an-Hadis; dan beasiswa Pemprov Jawa Timur untuk program Magister bagi Guru Madrasah Diniyah (Madin), pada 2019.

Untuk mengembangkan budaya akademik, Pascasarjana menyelenggarakan International Seminar on: “Promoting Peace and Tolerance in Contemporary World: Challenges and Opportunities,” yang menghadirkan pem­bicara internasional, dari Malaysia dan Amerika Serikat, dan pembicara nasional.

Juga dilaksanakan International Conference On “Islam and KnowledgeProduction In Modern Society”, dan “Konferensi Internasional tentang: Islam dan Politik Identitas di Era Revolusi Industri 4.0”.

Selain itu, penataan, penyempurnaan dan pengem­bangan kurikulum prodi-prodi dilakukan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi dan Kerangka Kuali­fikasi Nasional Indonesia (KKNI). Kegiatan ini melibatkan stake holders, yang mencakup lulusan, pengguna lulusan, mahasiswa, dan dosen pengajar di setiap program studi (Magister dan Doktor). Selanjutnya, penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) juga dimulai dengan workshop yang melibatkan dosen pengampu mata kuliah.

Upaya rintisan menuju universitas dan Pascasarjana yang bereputasi internasional terus dilaksanakan dengan penerimaan mahasiswa internasional dari Libya, dan Iraq, baik untuk program Magister maupun Doktor. Penguatan jaringan alumni Pascasarjana dilakukan dengan mengadakan simposium alumni dengan tema: “Kontribusi Ke­sarjanaan Islam Indonesia terhadap Peradaban Dunia.”