UINSA Column

Literasi Terapan Sebagai Upaya Preventif Krisis Ekonomi 

Literasi Terapan Sebagai Upaya Preventif Krisis Ekonomi 

Pandemi Covid-19 memberikan pukulan hebat bagi keberlangsungan hidup manusia. Eksistensi manusia diuji dengan berbagai  krisis mulai dari krisis pangan, krisis kesehatan dan krisis ekonomi. Perlambatan ekonomi atau resesi yang mengarah ke krisis ekonomi hampir terjadi di semua negara. Ketiadaan aktivitas akibat wabah menyebabkan penurunan produksi hampir di semua lini bisnis baik industri kecil menengah, industri besar hingga ekspor-impor semuanya menurun drastis.  

Krisis keuangan menyebabkan jumlah masyarakat miskin menjadi naik, Badan Pusat Statistik mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2020 mencapai 26,42 juta orang atau meningkat 1,63 juta orang dibanding September 2019. Jika dibandingkan Maret 2019, meningkat 1,28 juta orang akibat pandemi disebabkan karena pembatasan aktivitas, dan berimplikasi pada rendahnya produktivitas masyarakat.

Banyak upaya menjembatani agar aktivitas dan pemulihan ekonomi tetap berjalan ditengah pembatasan sosial, salah satunya melalui konsep work form home. Melalui fasilitas gawai kita dapat melakukan pekerjaan dari mana saja. Selain keunggulan bonus demografi sudah saatnya kita juga memanfaatkan bonus digital, konsep work from home memaksa kita untuk beradaptasi dengan dunia digital. Pembelajaran, rapat, dan segala jenis pekerjaan dari rumah. Hierarki kebutuhan dasar juga akan mengalami penyesuaian, dari yang sebelumnya pada tingkat pertama yaitu pemenuhan kebutuhan fisiologis mungkin harus ditambah dengan jaringan internet dan alat komunikasi. Namun karena belum meratanya infrastruktur digital  dan mahalnya biaya internet, mengakibatkan tersendatnya solusi ini.  

Perbaikan sistem pendidikan 

Sektor pendidikan mengalami goncangan cukup keras karena pandemi, ini dikarenakan sumber belajar tidak terfasilitasi. Beberapa faktor yang perlu dievaluasi yakni kurikulum, kesiapan pengajar, anak didik dan orang tua. Keluhan utama orang tua siswa yakni bertambahnya tugas orang tua dan siswa melalui tambahan tugas tanpa bimbingan guru. Lantas proses belajar mengajar yang terjadi hanya dilakukan asal terselenggara saja, tidak substantif. World bank (2020) mengestimasi terkait kebijakan penutupan sekolah bahwa kebijakan penutupan sekolah dapat menyebabkan siswa di Indonesia mengalami tambahan kehilangan waktu belajar selama 0,4-0,7 tahun. 

Butuh beberapa perbaikan dan kita harus siap untuk memulainya. Bukan belajar di rumah, akan tetapi belajar dari rumah. Sumber belajar tetap ada di sekolah dan guru sebagai fasilitator pembelajaran didukung dengan sumber belajar yang diajarkan pada murid, kurikulum yang disampaikan harus beradaptasi pada perkembangan zaman. Media yang digunakan bisa bermacam-macam dan tujuan pembelajaran tetap tersampaikan. 

Literasi Keuangan 

Upaya alternatif lain yang dilakukan yakni dengan melakukan pendidikan terapan bagi siswa, Salah satu bentuk pembelajaran yang efektif ditengah pandemi yakni literasi terapan dalam bidang keuangan, edukasi mengenai pentingnya mengetahui sumber pendapatan, investasi dan pencatatan pengeluaran dibutuhkan agar anak didik mampu menganalisis dan mengantisipasi krisis kekeuangan. Salah satu bentuk pencegahan krisis keuangan yakni dengan memberikan pembelajaran partisipatif dan aplikatif kepada anak, misalnya dengan menghitung dan mencatat apa saja uang saku hari ini. Masih banyak anak-anak atau bahkan orang tua yang belum memahami urgensi literasi keuangan, data otoritas jasa keuangan pada tahun 2019 menunjukkan kemampuan literasi keuangan di Indonesia masih cukup rendah yakni 38,03%. Upaya pemahaman literasi keuangan selain dapat meminimalisir pengeluaran yang tidak bermanfaat, juga dapat memberikan pemahaman konsep ekonomi. Literasi terapan sejak dini akan memberikan efek positif pada anak di masa depan, terutama ketika mengahadapi resiko krisis keuangan.  

Literasi keuangan juga dapat meningkatkan kemampuan pengelolaan aset yang dimiliki dengan adanya pembelajaran mengenai ketaatan menabung dan berinvestasi dari uang yang dimilikinya. Saat ini bukan hanya anak-anak yang gagap perihal edukasi keuangan, orang dewasa sekalipun kerap masih belum mampu membedakan konsep sederhana seperti  “kebutuhan” dan “keinginan”.  

Setelah mampu membaca dan menulis, lalu apa fungsi pendidikan ? Pertanyaan sederhana yang kerap sulit sekali untuk diuraikan. Untuk apa baca tulis jika tidak dapat mengajarkan kepada kita penyelesaian persoalan. Pembelajaran perlu diarahkan ke arah literasi terapan yang lebih advokatif, membuat langkah antisipasi ketika terjadi penurunan aktivitas ekonomi.

Literasi terapan memungkinkan kita menghadapi krisis, mengajarkan kemampuan tersebut sejak dini membuat pengajaran tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca dan menulis akan tetapi pembelajaran dapat lebih bersifat praksis. Orang tua dapat mengajarkan bagaimana pengelolaan kebutuhan rumah tangga sejak dini. Misalnya uang saku yang diberikan harus dicatat pengeluarannya, sisa uang saku yang harus ditabung, atau mengajarkan bagaimana berinvestasi sejak dini sebagai bekal di masa depan. 

Kita bisa memanfaatkan berbagai aplikasi digital pencatatan transaksi keuangan, seperti accurate, bukukas, andromoney, money manager, dll. Literasi keuangan bisa dimulai dengan mempelajari besaran profit investasi dan berbagai tingkat resikonya, serta penggunaan dana darurat sebagai bekal antisipatif saat krisis. Kecerdasan digital juga merupakan keterampilan dasar yang wajib dimiliki sebagai tindak lanjut literasi kita.