UINSA Column

Menteri Agama Sambut Baik Peringatan FDK Emas

Menteri Agama Sambut Baik Peringatan FDK Emas

Menginjak usia 50 tahun, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel (FDK UINSA) Surabaya menggelar acara “Launching dan Perayaan 50 Tahun FDK UINSA”. Acara ini dilaksanakan secara luring di Hotel Mercure Grand Mirama, Surabaya. Selain itu, disiarkan pula secara daring melalui Zoom Meeting pada Jumat (26/3).

Acara tersebut menghadirkan Menteri Agama Republik Indonesia, Yaqut Cholil Qoumas. Dalam arahan Menteri Agama, pria yang akrab disapa Gus Yaqut ini mengatakan jika dirinya menyambut baik peringatan 50 tahun FDK UINSA Surabaya, yang di dalamnya terdapat tidak agenda penting.

Agenda penting dalam peringatan 50 tahun FDK, yang pertama adalah peluncuran buku Madzhab Dakwah Wasathiyah Sunan Ampel. Kedua adalah launching Da’wa Wasathiyah Center (Daya Center). Ketiga, penguatan kompetensi penyuluh agama Islam.

Gus Yaqut berharap kepada civitas akademika untuk melanjutkan ajaran dan model dakwah Wali Sanga yang terintegretasi pada Nusantara agar tetap relevan seiring berubahnya ruang dan waktu. “Hal ini merupakan ikhtiar untuk mendakwahkan Islam sebagai solusi bagi umat manusia dan rahmat bagi seluruh alam,” jelas laki-laki berbaju batik itu. 

Mantan Wakil Bupati Rembang ini juga mengatakan jika narasi ajaran agama saat ini banyak diartikan sebagai alat politik atau alat kepentingan tertentu daripada sebagai inspirasi. Untuk itu, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) harus optimal agar lebih mencerahkan dan mendidik.“Kampus PTKIN, khususnya FDK UINSA, harus memiliki upaya kuat dan sistematis untuk mengarahkan energi umat Islam ke arah yang essensial,” ungkapnya. 

Dalam rangka mempertahankan DNA atau karakeristik Kementerian Agama (Kemenag) sebagai sektor pendidikan dan teladan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Gus Yaqut menekankan untuk mempertegas Madzhab Islam Wasathiyah. Salah satu di antaranya adalah dengan mendirikan rumah moderasi beragama di PTKIN dan Center for Research and Publication sebagai kontribusi dan ijtihad.

“DNA ini harus terus diperkuat agar sektor pendidikan di Kemenag menjadi role model dalam menjaga dan mencintai NKRI yang tidak saja dalam wacana dan pikiran tetapi juga dalam tindakan nyata,” tegasnya di atas podium.

Menteri Agama yang juga Ketua PP GP Anshor tersebut juga menyampaikan jika dirinya prihatin dengan adanya diskursus publik yang cenderung membenci negaranya. “Ini tentu bukanlah karakter madzhab wasathiyah dan bukan dari ciri khas Islam Nusantara,” tambahnya.Wasathiyah adalah model dakwah yang dicontohkan oleh Raden Mohammad Ali Rahmatullah atau Sunan Ampel di mana model dakwahnya lunak tetapi tidak lembek, seimbang, bermaslahat, dan proporsional. “Dakwah yang diajarkan Sunan Ampel mampu menyebarkan ajaran Islam secara damai tanpa diliputi kekerasan dan pertumpahan darah,” pungkasnya. (fkn/fry)