UINSA Column

Komitmen UINSA Surabaya dalam Peningkatkan Kapasitas dan Kompetensi Penyuluh Agama Islam

Komitmen UINSA Surabaya dalam Peningkatkan Kapasitas dan Kompetensi Penyuluh Agama Islam

Pembahasan MoU Peningkatan Kapasitas dan Kompetensi Penyuluh Agama Islam oleh Kementerian Agama RI dilaksanakan Selasa, 23 Maret 2021. Melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya digandeng sebagai peserta.

Selain UINSA Surabaya, pembahasan MoU turut menghadirkan dari sembilan Universitas Islam Negeri (UIN) lain, mulai UIN Syarif Hidayatullah Jakarta hingga UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Kegiatan tersebut juga menghadirkan Balitbang Diklat, PUSAD Paramadina, Indonesia Muslim Crisis Center, dan Common Ground.

Rektor UINSA Surabaya Masdar Hilmy mengatakan, kapasitas dan kompetensi penyuluh agama Islam harus ditingkatkan. “Kami berkomitmen untuk menjadikan para penyuluh sebagai garda terdepan dalam moderasi beragama dengan ragam pendekatan sesuai karakter lokal atau daerah dan distingsi UINSA,” urai pria yang sering disapa Prof. Masdar tersebut.

Moderasi merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Hal ini perlu mendapat perhatian dari banyak pihak. Untuk itu, kolaborasi lintas institusi harus dilakukan.

Secara operasional, penyusunan konsep, kurikulum, instrumen, materi, dan lainnya akan dipersiapkan oleh sepuluh dekan FDK yang turut serta dalam pembahasan MoU. FDK UINSA Surabaya sendiri merupakan inisiator yang menyiapkan konsep melalui kajian, diskusi, dan uji publik terbatas dengan Tim Bimas lslam Kemenag Rl bersama perwakilan para penyuluh agama lslam.

Kajian hingga uji publik itu dilaksakan pada 4 Oktober 2019 di Bogor Valley Hotel. Kegiatan ini menghasilkan Draf Naskah Akademik Standarisasi Kompetensi Penyuluh Agama lslam dalam mengembangkan Moderasi Beragama. Draf ini kemudian digodok oleh Dekan FDK UINSA bersama Sembilan Dekan FDK UIN lainnya.

Dilansir dari Kemenag.go.id, Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin mengatakan bahwa para penyuluh harus berkontentasi dengan generasi Z dan milenium dalam merebut ruang publik dan sosial media untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan.

“Untuk mengarusutamakan Moderasi Beragama di media sosial dan ruang publik, para penyuluh kita kalah cepat dari kelompok konservatif yang menguasai dunia maya,” kata Kamaruddin Amin didampingi Direktur Penerangan Agama Islam Juraidi, Selasa (23/3/2021). 

Prof. Kamaruddin, begitu sapaannya, menambahkan bahwa kondisi di atas merupakan tantangan bagi para penyuluh. Mereka memiliki tugas yang besar, untuk itulah peningkatan kompetensi hadir sebagai ikhtiar Ditjen Bimas Islam bersama 10 UIN, Balai Diklat, dan lembaga terkait.

Peningkatan kompetensi dari ragam literasi yang menjadi tugas para penyuluh agama Islam bermacam-macam. Beberapa di antaranya adalah pemberantasan buta huruf Al-Qur’an, yakni mengajarkan anak Indonesia mengaji atau literasi Al-Qur’an. Selain itu, moderasi beragama, literasi zakat dan wakaf, keluarga sakinah, dan produk halal.Pembahasan MoU Peningkatan Kapasitas dan Kompetensi Penyuluh Agama Islam ini berlangsung di Jakarta, 23-24 Maret 2021. Sembilan universitas lain yang turut bekerjasama adalah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Antasari Banjarmasin, UIN Raden Intan Lampung, UIN Walisongo Semarang, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Raden Fatah Palembang, UIN Alauddin Makassar, dan UIN Sultan Syarif Kasim Riau.