Budaya  akademik  sebagai  suatu  subsistem  institusi  memegang  peranan penting  dalam  upaya  membangun  dan  mengembangkan  kebudayaan  dan  peradaban masyarakat  (civilized  society)  dan  bangsa  secara  keseluruhan.  Indikator kualitas perguruan tinggi sekarang dan terlebih lagi pada milenium ketiga ini akan ditentukan oleh kualitas civitas akademika dalam mengembangkan dan membangun budaya akademik tersebut.

Budaya akademik sebenarnya adalah budaya universal.  Artinya, dimiliki oleh setiap orang yang melibatkan dirinya dalam aktivitas akademik.  Membangun budaya akademik suatu institusi merupakan pekerjaan yang tidak mudah.  Diperlukan  upaya  sosialisasi terhadap  kegiatan  akademik,  sehingga  terjadi  kebiasaan  di kalangan  akademisi  untuk melakukan norma-norma kegiatan akademik tersebut.

Foto 1 : Kajian Moderasi Beragama

Fakultas Syariah dan Hukum-UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai salah satu Fakultas tertua di UIN Sunan Ampel Surabaya tentunya memiliki cita-cita dan harapan yang sangat tinggi terhadap pencapaian pembangunan budaya akademik yang mengedepankan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan tetap memelihara dan mensinergikan nilai-nilai agama, moral bangsa dan budaya sesuai dengan semboyan “Akselerasi Menuju “World Class University”.

Pada praktiknya, proses pendidikan di Fakultas Syariah dan Hukum akan ditekankan pada penguasaan Soft Skill dan Hard Skill, bahkan pendidikan lebih diharapkan menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi lebih dibidangnya dan siap kerja atau menciptakan peluang kerja dengan tetap memberikan pendidikan karakter kepada mahasiswa. Pendidikan karakter perlu diberikan kepada mahasiswa dalam rangka membentuk civitas akademika Fakultas Syariah dan Hukum yang bermoral, santun dan beretika.

Foto 2 : Aktivitas Observasi Hilal

Selain itu, segenap civitas akademika Fakultas Syariah dan Hukum akan dibiasakan dengan budaya literasi. Budaya literasi ini dipandang sangat penting, sebab kecendurangannya di kalangan  masyarakat akademik perguruan tinggi,  gagasan  lebih  sering disampaikan  secara  lisan  melalui  seminar  atau  diskusi,  yang  seringkali  tidak  disertai dengan  bahan  tulisan.  Seharusnya gagasan-gagasan yang ada dituangkan dalam sebuah poko-pokok tulisan yang kemudian dapat dikembangkan dalam sebuah kajian penelitian maupun pengabdian, sekaligus sebagai bentuk pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi.

Dengan berbagai sarana dan prasarana yang disediakan Fakultas Syariah dan Hukum, segenap civitas akademika didorong untuk aktif, inovatif dan peka terhadap pengembangan kegiatan ilmiah baik dalam bidang teknik maupun sosial humaniora. Setiap civitas akademika diharapkan mampu untuk menjalankan tanggungjawab akademik maupun tanggungjawab sosial terkait dengan keilmuannya. Hal tersebut guna mendorong penerapan teori-teori bidang keilmuan masing-masing yang dipelajari agar bermanfaat bagi masyarakat secara menyeluruh.