UINSA Column

RUKUK BERSAMA PERUKUK MENUJU KEMULIAAN

RUKUK BERSAMA PERUKUK MENUJU KEMULIAAN

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ
“Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk” (QS. Al Baqarah [2]: 43)

Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya yang memerintahkan orang-orang Yahudi untuk mensyukuri nikmat, menepati janji, dan tidak mencampur-adukkan kebenaran dengan kesesatan. Sebagai kelanjutan, ayat ini menambahkan tiga perintah lainnya, yaitu mendirikan shalat, membayar zakat, dan tunduk patuh beragama bersama semua muslim.

Pertama, perintah shalat. Kata shalat dan derivasinya diulang dalam Al Qur’an sebanyak 92 kali, dan hampir separuhnya menggunakan kata “dirikanlah,” bukan “kerjakanlah” shalat. Kata yang pertama mengandung makna yang lebih dalam, yaitu perintah melakukan shalat dengan kesungguhan, kekhusyukan, dan kesempurnaan, mulai dari aturan wudu sampai aturan yang wajib dan sunah di dalam shalat,  ketepatan waktu, dan kesempurnaan bacaan Al Qur’an, doa-doa, dan shalawat Nabi SAW.

Menurut Prof. Dr. Said Agil Siroj, MA., perintah shalat bisa dikaji dari beberapa tinjuan. Dari segi sejarah, perintah shalat diterima Nabi ketika ia menerima sejumlah cobaan berat yang dialami secara bertubi-tubi selama setahun (‘amul huzni). Khadijah r.a, istri terkaya yang membiayai semua kegiatan dakwah Nabi meninggal dunia. Dialah istri yang juga pandai memilih kata motivatif ketika Nabi bersedih. Ketika air mata Nabi belum kering, Abu Thalib, sang paman yang non-muslim dan selalu pasang badan membelanya dari ancaman orang kafir, juga meninggal. Cobaan berikutnya, Nabi dan sejumlah sahabat kelaparan, akibat boikot bahan makanan oleh orang kafir. Karena tekanan itu, Nabi mencoba meninggalkan Makkah menuju kota Thaif untuk mencari ketenangan sejenak. Tapi, di luar dugaan, justru Nabi mendapat lemparan batu, termasuk oleh anak-anak penduduk setempat, sehingga muka Nabi terluka berat. Saat itulah, Allah memberi hiburan dengan memanggilnya ke langit tertinggi (isra’ mi’raj) untuk menerima perintah shalat. Dalam kondisi demikian, sangatlah relevan firman Allah berikut, 

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ
“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan kesabaran dan shalat. Dan sungguh shalat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk” (QS. Al Baqarah [2]: 45).   
Perintah shalat yang diterima Nabi SAW ketika berada di langit tertinggi (mi’raj) juga mengandung arti, bahwa siapa pun bisa menaikkan ruhnya ke langit melalui shalat. Inilah yang telah berhasil dilakukan oleh orang-orang pilihan setelah berjuang puluhan tahun membersihkan hatinya (khawashul khawash) untuk bertemu, bahkan “melihat” Allah secara langsung, sebagai hadiah kecil sebelum hadiah besar berupa perjumpaan dengan Allah dalam surga kelak. Allah SWT berfirman, 

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ 
“Wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, memandang Tuhannya” (QS. Al Qiyamah [75]: 22-23).
Dari segi statusnya, shalat adalah ibadah tertinggi dalam Islam. Maka, pengaruh shalat harus mewarnai akhlak keseharian sebagai identitas seorang muslim. Jadi, kekhusyukan shalat harus menghasilkan juga kekhusyukan sosial.

http://www.salamdakwah.com/baca-artikel/kekeliruan-dalam-shalat--bagian-3-.html

Kedua, membayar zakat. Kekhusyukan shalat juga ditandai dengan kesediaan membayar zakat harta (mal) dan zakat badan (fitrah) secara tepat waktu, tidak ditunda-tunda, dan tepat ukurannya  sesuai dengan ketentuan agama. Perintah shalat dan zakat yang selalu beriringan menunjukkan, bahwa kemuliaan muslim ditentukan bagaimana ia bisa membangun kedekatan dirinya dengan Allah dan dengan lingkungan, juga menyeimbangkan kebersihan hati dan kebersihan harta dari hak-hak orang miskin yang harus diberikan.    
Ketiga, rukuk bersama para perukuk. Shalat dan zakat ternyata belum cukup untuk mengantar manusia menjadi muslim mulia. Masih ada satu lagi yang harus dilakukan, yaitu menyatu dengan semua muslim untuk bersama-sama membangun masyarakat yang tunduk kepada hukum-hukum Allah. Umat Islam tidak hanya dituntut meluruskan shaf ketika shalat, tapi juga shaf dalam membangun bangsa yang beradab dan berkemajuan (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur).

Perintah rukuk bersama para perukuk dalam ayat ini sejatinya dialamatkan kepada orang Yahudi, sebab mereka tidak mengenal rukuk dalam ibadah mereka. Tapi, ayat ini juga berlaku untuk umum. Perintah ini juga sebagai sindiran untuk orang-orang munafik, yang hanya mendengungkan kebaikan, tapi tidak melakukannya. Orang-orang Yahudi mengakui Muhammad sebagai Nabi yang khusus untuk bangsa Arab.

“Warka-uu ma’ar raaki-‘in” yang menjadi penutup ayat ini juga dijadikan dasar perintah shalat berjamaah. Memang, ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat berjamaah, tapi mereka satu pendapat, bahwa shalat berjamaah sebagai ibadah yang mulia. Menurut Ibnu Abdil Barr, hukum shalat berjamaah adalah fardhu kifayah. Sedangkan menurut Adh Dhahiri dan Imam Ibnu Hanbal, hukumnya fardhu ain, dan menurut pendapat ulama terbanyak, hukumnya adalah sunnah muakkadah (amat sangat dianjurkan). Hamka menyatakan, firman Allah ini adalah teguran untuk muslim yang berpandangan, “Yang penting, saya telah melakukan shalat, tidak harus bercampur dengan orang-orang di masjid.”

M. Quraish Shihab mengatakan, ayat ini mengajarkan tiga jenis kewajiban yang saling terkait, yaitu shalat sebagai kewajiban badaniyah (fisik), zakat sebagai kewajiban maliyah (harta), dan rukuk sebagai kewajiban imaniyah (keimanan), yaitu tunduk sepenuhnya kepada Allah. Hamka menambahkan, hanya dengan shalat yang khusyuk, dan zakat yang menghapus sifat kikir, seseorang dapat menyambungkan hatinya dengan masyarakat, khsususnya orang-orang miskin, yang telah diperas tenaganya, atau terhimpit ekonominya karena riba.
Sekali lagi, melalui ayat ini, kita tingkatkan usaha kita untuk meraih 3 K, yaitu kekhusyukan, kedermawanan, dan kebersamaan dalam semua lini pembangunan masyarakat. 

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 1, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 190 (2) M. Qureish Shihab, Tafsir Al Misbah, vol. 1, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 215-217, (3) M. Sholeh Qosim dan A. Afif Amrullah, Tuntunan Shalat Seperti Nabi SAW, LTM PBNU, Jakarta cet 13 2020, p. iv-x.