UINSA Column

Menyoal Agama-Agama Pra Islam: Basis Teologis dan Sosiologis

Menyoal Agama-Agama Pra Islam: Basis Teologis dan Sosiologis


Prof. Nur Syam

Bukan suatu kebetulan jika agama-agama yang disebut sebagai agama Semitis itu lahir di Timur Tengah dan memiliki keterkaitan historis antara satu dengan yang lain. Semua agama ini bermuara pada Nabiyullah Ibrahim AS dengan segala percabangannya. Ada yang bercabang dari Nabi Musa AS yang melahirkan agama Yahudi, ada yang percabangannya dari Nabi Isa AS sebagai agama Nasrani dan ada yang percabangannya berasal dari Nabi Muhammad SAW yang melahirkan Islam. 

Ungkapan ini saya sampaikan dalam Bedah buku yang dilakukan pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, 25/06/2021.  Sebagai nara sumber adalah Dr. Sa’dullah Affandy (Penulis buku “Menyoal Status Agama-Agama Pra Islam, Kajian Tafsir Alqur’an atas Keabsahan Agama Yahudi dan Nasrani Setelah Kedatangan Islam”), saya dan Dr. Abdul Ghafur Maimun. Hadir juga Prof. Masdar Hilmy, Rektor UIN Sunan Ampel, Dr. Kunawi Basyir, dan dimoderatori oleh Dr. Suhermanto Ja’far, Wakil Dekan Bidang Akademik FUF UIN Sunan Ampel. 

Bangsa  Semit secara genealogis merupakan anak keturunan Nabi Nuh AS, yaitu Syam bin Nuh atau anak tertua Nabi Nuh AS. Yang kemudian berkembang di jazirah Timur Tengah. Semenanjung Arab menjadi tempat bangsa Semit, yang kemudian berimigrasi  ke Wilayah Bulan Sabit Subur, yang kemudian dikenal sebagai bangsa Babilonia, Assyria, Phonesia, dan Ibrani.  Bangsa-bangsa ini yang kemudian secara turun temurun melahirkan generasi akhir-akhir ini, yaitu Bangsa Arab, Bangsa Israel dan Bangsa Ibrani, yang masing-masing  mengembangkan keyakinan agamanya. Sesuai dengan tabiatnya, maka pemeluk agama-agama ini juga melakukan gerakan keagamaan untuk memperluas kepenganutan agamanya.

Pada perkembangannya, agama Nasrani menjadi agama Kristen dan Katolik yang kebanyakan memasuki wilayah utara atau Eropa dan dipeluk oleh kebanyakan etnis Kaukasoid dan terus berkembang di Amerika, sedangkan agama Yahudi menempati wilayah di sekitar Yerusalem dan tidak berkembang lebih jauh, sedangkan Islam berkembang ke wilayah Asia, sedikit di Eropa dan Afrika. Di Afrika lebih ke selatan menjadi pemeluk Nasrani sementara di Afrika Utara menjadi kebanyakan pemeluk Islam.

Di antara tiga agama ini, sesungguhnya lahir dan berkembang dari rahim yang sama, yaitu Bangsa Semit yang merupakan keturunan Ibrahim AS. Oleh karena itu, agama-agama yang lahir dari rahim yang sama ini juga memiliki kesamaan meskipun di sana sini juga terdapat perbedaan. Tentu sangat wajar jika terjadi perbedaan sebab seiring perjalanan waktu di kala ajaran agama sudah sampai di tangan manusia, sementara banyak penafsir agama tersebut maka dipastikan akan terjadi perubahan atau pengurangan dan penambahan, sehingga bisa saja agama dengan ajarannya yang asli sudah tidak didapatkan keasliannya itu. 

Agama Nabi Ibrahim AS adalah “millah Ibrahim” yaitu agama sebagaimana diberitakan di dalam Alqur’an yaitu agama yang lurus dan berkeyakinan monotheisme. Nabi Ibrahim dikenal sebagai Bapak Monotheisme. Agama Yahudi, Nasrani dan Islam merupakan agama-agama yang sesungguhnya mengajarkan tentang keesaan Tuhan, meskipun nama-namanya bisa berbeda antara satu dengan lainnya. Yahweh adalah nama yang disematkan kepada Tuhan dalam Yahudi, meskipun tentang nama ini juga debatable. Lalu Allah di dalam Nasrani juga Tuhan Yang Esa. Menjadi berubah nama itu, Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Rohul Kudus adalah penyematan nama-nama yang dilakukan oleh pemeluknya. Sama dengan Allah dalam Islam, yang memiliki 99 nama,  tetapi hakikatnya nama Allah itu esa adanya.

Sesuai dengan tulisan Sa’dullah Affandy, bahwa di dalam al-Qur\'an  terdapat ayat-ayat yang dinyatakan sebagai nasikh dan mansukh atau disebut sebagai abrogasi ayat-ayat di dalam al-Qur\'an. Ada tiga pandangan tentang nasikh Mansukh, yaitu: pertama, Menganggap bahwa nasikh Mansukh, baik yang intra-abrogasi maupun ekstra abrogasi terdapat di dalam al-Qur\'an. Kedua, Menganggap bahwa nasikh Mansukh, yang intra-abrogasi tidak ada, tetapi yang ekstra abrogasi ada. Secara internal tidak terdapat ayat yang mengabrogasi ayat lainnya. Artinya ayat tersebut dihapus dari al-Qur\'an. Tetapi secara ekstra abrogasi maka al-Qur\'an mengabrogasi terhadap syariat-syariat agama sebelumnya. Pasca turunnya al-Qur\'an, maka semua hukum atau syariat dalam agama lain tidak berlaku. Ketiga, Menganggap bahwa nasakh mansukh tidak didapatkan di dalam al-Qur\'an. Antar ayat tidak mengabrogasi lainnya, dan secara extra abrogasi bahwa syariat agama-agama sebelumnya tidak diabrogasi. Islam justru menyempurnakan terhadap syariat dalam agama-agama sebelumnya. 

Pandangan bahwa tidak terdapat abrogasi intra-qur’anic atau extra qur’anic ini didasari oleh kenyataan teks dan historisitas kelahiran agama-agama Semitis. Kelahiran Islam bukan merupakan agama untuk menghapus syariat-syariat agama-agama yang lalu, dan juga menyalahkan syariat-syariat agama lalu dan bahkan doktrin teologisnya, akan tetapi untuk menyempurnakannya. Ibaratnya, sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa Beliau hadir untuk menyempurnakan bangunan yang sudah ada. Ada batu bata yang belum terpasang, maka Nabi Muhammad SAW menjadi pemasang untuk melengkapinya. 

Melalui konsep semacam ini maka agama-agama yang telah lahir sebelum Islam menjadi absah keberadaannya, baik teologis maupun syariahnya. Jika agama Yahudi dan Nasrani itu merupakan agama yang diturunkan oleh Allah pada umat terdahulu, sebagaimana pemberitaan di dalam Al Qur’an, maka dipastikan bahwa agama-agama tersebut memiliki rujukan teks yang sesuai dengan agama tersebut. Jadi teologi maupun syariahnya merupakan ajaran yang sah sesuai dengan zamannya.

Hanya saja,  ketika Islam sudah hadir dan di dunia ini masih terdapat orang yang meyakini kebenaran agama-agama sebelumnya, berteologi dan bersyariat sebagaimana  agama yang hadir di masa lalu, maka Alqur’an mengajarkan “la ikraha fiddin” artinya tidak ada paksaan dalam beragama, dan “lakum dinukum waliyadin”, yang artinya “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”

Wallahu a’lam bi al shawab. 

Sumber: https://nursyamcentre.com/artikel/horizon/menyoal_agamaagama_pra_islam_basis_teologis_dan_sosiologis_/1