UINSA Column

Menjaga Denyut Sektor Riil

Menjaga Denyut Sektor Riil

Ana Toni Roby Candra Yudha

Covid 19 telah menjadi bahasan aktual dunia yang berdampak pada seluruh sektor kehidupan. Setiap belahan dunia yang terdampak, termasuk Indonesia, telah melakukan sejumlah upaya untuk pemulihan seluruh sektor, termasuk di dalamnya perekonomian dan kesehatan. Hal ini selayaknya menjadi tanggung jawab secara bersama, tanggung jawab semua pihak untuk menjaga diri dengan mengikuti anjuran pemerintah dengan beraktivitas di rumah, yang harapannya agar rantai penularan dapat segera berhenti.

Sampai ditulisnya artikel ini menurut worldometers.com, data di dunia telah menunjukkan adanya 208,441,199 kasus COVID 19, 4.380.942 kematian, dan 186.931.376 dinyatakan sembuh. Sedangkan di Indonesia per-Rabu, 18 Agustus 2021 terdapat 3,87 juta kasus positif, meninggal 119 ribu. Adapula beberapa negara maju yang saat ini memiliki jumlah terdampak terbesar di dunia. Sebut saja negara tersebut seperti Amerika Serikat, Italia, Spanyol, Perancis, Jerman, bahkan Singapura. Negara-negara yang secara fundamental ekonominya kuat, penguasaan teknologinya canggih, serta masyarakatnya teredukasi tinggi, tetap saja juga mengalami kesulitan dalam mengatasi COVID 19, meskipun dewasa ini sudah mulai pulih dan masih tetap menerapkan kebijakan. Artinya, tidak ada satu negarapun yang menyikapi persoalan ini dengan longgar, sekalipun mereka memiliki sumber daya kesehatan dan teknologi tercanggih.

Pihak yang merasa terdampak akan ujian ini jelas masyarakat di semua elemen. Bagi masyarakat yang memiliki keberuntungan dan kecukupan materi, mereka tidak lagi punya kebebasan untuk beraktivitas sebagaimana sediakala, yang selalu bebas memilih dan memanfaatkan produk dan jasa yang dikehendaki, namun masih dapat memanfaatkan ponsel pintarnya untuk berbelanja. Kondisi berbeda dirasakan oleh masyarakat dengan skala pendidikan dan pendapatan menengah ke bawah. Mereka menjalankan aktivitas mata pencahariannya di luar rumah dan memperoleh pendapatan yang terkadang hanya cukup untuk konsumsi sehari-hari, dan dapat diduga tidak memiliki cadangan tabungan yang cukup. Pemenuhan kebutuhan masyarakat bisa saja dilakukan secara kondisional oleh siapapun. Namun ada unsur penting yang menjadi perhatian yaitu, dapat terpenuhinya kebutuhan fisiologis seperti makan, minum, listrik dan air.

Pemenuhan kebutuhan dalam kondisi demikian, masih relatif dapat diatasi dengan mudah oleh masyarakat berskala ekonomi menengah ke atas. Mereka dapat menggunakan jasa antar jemput yang disediakan oleh berbagai perusahaan berbasis online, namun sekali lagi hal tersebut hanya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat menengah ke atas. Sedangkan masyarakat yang tergolong menengah ke bawah, kecil kemungkinan untuk dapat memanfaatkannya karena faktor kemampuan penguasaan teknologi ponsel pintar dan pendapatan yang dimiliki.

Terlepas dari segala macam upaya pemerintah dalam mengatasi semua elemen yang terdampak COVID 19. Pemerintah sudah mengeluarkan stimulus perekonomian yang sudah direalisasi secara bertahap sejak bulan Februari 2020 hingga Maret 2021 lalu. Stimulus tahapan pertama difokuskan pada pemberian potongan harga tiket pesawat, pada pesawat yang kursi penumpangnya terisi beberapa bagian. Kemudian stimulus kedua difokuskan pada fiskal, seperti pemberian pemotongan pajak pada beberapa sektor yang terdampak serius seperti transportasi, hotel, dan restauran. Sedangkan stimulus ketiga, difokuskan untuk sektor ekonomi riil dan sebagian untuk kesehatan, aturan OJK berupa Peraturan OJK No.11/POJK.03/2020 yang substansinya mengatur tentang restrukturisasi angsuran pembiayaan atau kredit bagi nasabah perbankan dan leasing, hingga pogram vaksinasi 1 juta dosis perhari.

Adanya keadaan yang dialami oleh sebagian besar masyarakat dalam menghadapi mewabahnya COVID 19 ini, nampaknya memberikan dampak berantai kepada pihak lain. Pada saat itulah perilaku berbelanja masyarakat di tempat keramaian atau department store menurun drastis. Mereka jelas tidak akan membelanjakan uangnya lagi untuk belanja pakaian, makan di restoran, bersantai di café, dan berwisata ke objek-objek wisata yang menarik. Sehingga uang serta kekayaannya akan menumpuk dan tidak berputar. Perputaran uang inilah yang tengah lesu saat ini, yang ujungnya menyebabkan level ekonomi masyarakat menengah ke bawah juga menurun, juga disadari atau tidak pembatasan sosial mulai dari dari PSBB hingga pemberlakuan PPKM dengan berbagai level pun turut menyebabkan ekonomi masyarakat menengah ke bawah khususnya, menjadi semakin terhimpit.

Maka, sekalipun tengah diberlakukannya kebijakan physical distancing, perputaran uang sebaiknya tetap terjadi. Terlebih uang harus tetap berputar sebagaimana teori flow concept, yaitu uang harus terus mengalir untuk memastikan perekonomian saling terintegrasi, tersambung antara pihak yang berlebih kepada pihak yang memerlukan. Perlu adanya sarana dan media yang dapat menyalurkan kekayaan tersebut, serta perlu ‘upaya pemaksaan’ uang tersebut agar keluar dari pihak yang berkecukupan untuk disalurkan kepada pihak yang membutuhkan.

Menyikapi hal tersebut, maka relevan jika perlu adanya kebijakan publik yang dapat terawasi oleh semua pihak. Serta pemanfaatan sumber fiskal selain pajak seperti zakat, infak dan wakaf, dan aktif turut serta dalam program vaksinasi. Upaya-upaya ini diharapkan diedukasikan untuk meningkatkan kesadaran dan empati masyarakat yang tujuannya memulihkan kesehatan fisik serta ekonomi masyarakat secara bertahap.

Adanya peningkatan kebutuhan makanan pokok masyarakat kecil dan menengah terlihat riil di tengah kondisi dewasa ini, maka empati dan bantuan dari siapapun jelas sangat diperlukan. Kebutuhan yang muncul mulai dari alat pelindung diri (APD) di berbagai rumah sakit, puskesmas, ruang isolasi hingga vaksin pun tidak kalah penting. Tidak sedikit pula masyarakat yang terlihat sepi dagangannya atau bahkan tutup sementara karena tidak adanya konsumen. Lembaga filantropi beserta sukarelawan dapat mempercepat geraknya untuk menjemput dan menyalurkan dana bantuan kepada pihak yang dinilai membutuhkan. Harapannya sektor riil seperti pasar, retail, transportasi, dan usaha kecil menengah tetap mampu bertahan.

Berdasarkan dari sekian ulasan yang dijelaskan sebelumnya, adanya stimulus, POJK, berbagai kebijakan dan vaksin COVID19 secara massal tersebut sangat layak diapresiasi. Alasannya adalah karena stimulus tersebut diarahkan secara langsung pada spot yang terdampak. Upaya penguatan kinerja lembaga filantropi-pun perlu didukung dan diapresiasi. Dukungan dan bantuan dari lembaga filantropi untuk menjemput dan menyalurkan dana bantuan serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan sangat diperlukan. Tentunya hal ini perlu bantuan dan kerjasama banyak pihak untuk memastikan efektivitas realisasi stimulus dan vaksinasi. Semoga di tengah kondisi demikian ini, diharapkan jangan ada pihak yang mengambil keuntungan untuk kepentingan personal. Mengingat betapa sulitnya keadaan dirasakan oleh siapapun dan dimanapun, namun penting juga untuk terus berusaha dan menjaga rasa optimisme untuk bangkit kembali.

Sejumlah niatan, usaha dan bantuan dari banyak pihak telah dan terus dilakukan dalam rangka mengembalikan kondisi untuk kembali normal. Terlepas adanya beberapa pihak yang menilai kebijakan tersebut terlambat, kurang efektif, atau besarannya tidak maksimal. Doa semua pihak pasti mengharapkan ujian datangnya COVID-19 ini akan segera berakhir. Sekaligus sebagai ajang pembuktian pada masyarakat dunia bahwa Indonesia mampu bertahan dan menjadi lebih tangguh. In Syaa Allah.