UINSA Column

Mari Menjadi Insan Munafik yang Paripurna

Mari Menjadi Insan Munafik yang Paripurna

Ketika berusaha menulis tema ini, ada dua model penulisan yang saya coba torehkan dalam lembar digital note ini, namun kedua model penulisan itupun saya hapus dan saya ganti. Mengapa kog sampai demikian, sejauh ini saya merasa ada yang salah dengan diri saya, saya merasa ada yang perlu dikoreksi dengan saya. Terlebih lebih bila melihat tema tulisan yang mengajak untuk menjadi insan munafik paripurna. Apakah bisa saya jadi munafik? atau memang selama ini saya memang munafik? sehingga ada konsekwensi sendiri dari dalam diri yang susah diekspresikan untuk menjabarkan apa dan bagaimana menjadi orang munafik. 

Kalau dibilang saya orang suci, walah itu jauh, saya bukan orang suci yang tanpa dosa, kalau dibilang saya orang jujur, jujur ya saya juga pernah beberapa kali menyatakan hal yang kurang benar dan kurang patut, namun kalau dikatakan sebagai orang munafik, saya sedikit bingung, kayaknya masuk, tapi kog segitunya ya?

Kemunafikan seseorang mungkin bisa diukur dari beberapa hal. Di beberapa hadist disebutkan ciri ciri orang munafik itu diantaranya bila berjanji dia ingkar lha pertanyaannya apakah ada diantara kita yang tidak pernah ingkar janji? kalau susah mendapatkan orang yang tidak pernah ingkar janji mungkin kita akan mencari orang yang derajat menepati janjinya lebih baik dari pada "mleset"nya. Syukur Alhamdulillah bila kita termasuk kedalam kategori ini. Namun jangan sampai kita masuk kedalam kategori yang ketiga yaitu orang yang lebih banyak ingkar janji dari pada memenuhi janjinya. Kadang kadang kita sudah terlanjur berjanji namun para pihak yang terkait dengan pelaksanaan janji seolah olah tidak mau kita untuk memenuhi janji itu. Menurut pandangan saya, bila saya menemui hal seperti itu maka saya akan menepati janji saya sampai saya secara Syar'i saya tidak sanggup menjalaninya.

Tapi kadang kala kita menghadapi situasi dimana kita harus menyenangkan orang, kita berbasa basi, bermanis manis padahal sebetulnya kita sangat eneg dan tidak nyaman bersamanya, apakah itu juga perlambang bila kita dijangkiti oleh kemunafikan?

atau disatu sini kita memberi saran dan mensupport seseorang namun setelah itu menemui konstrain dan hambatan terus kita ikut ikutan menghardik, mencemooh atau malah ikut memusuhi, apakah itu bukan perlambang dimana kita terjangkiti oleh kemunafikan?

atau ketika kita memiliki rasa namun kita menahannya hanya karena ketakutan menghadapi cemoohan banyak orang, sehingga menjadikan kita bereaksi sangat negative dengan melawan rasa itu, apakah itu bukan terjangkiti oleh kemunafikan?

atau ketika kita merasa jenuh dengan kehidupan masa lalu kita dan kemudian kita berusaha untuk memulai hidup baru dan harapan baru, namun dikala lain kita juga merindukan untuk kembali ke masa lalu, apakah itu juga bukan tanda tanda kita terjangkiti oleh kemunafikan?

Bila demikian, kenapa sih kita tidak sekalian menjadi Insan yang paripurna, paripurna dalam kemunafikan, menjadi munafik yang agung