UINSA Column

KIAT SABAR

KIAT SABAR

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اصۡبِرُوۡا وَصَابِرُوۡا وَرَابِطُوۡا وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian, kuatkanlah kesabaran, dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu), serta bertakwalah kepada Allah, agar kalian berbahagia.” (QS. Ali Imran [3]: 200)

Inilah ayat penutup surat Ali Imran yang berisi perintah sabar, bela negara, dan takwa. Ayat ini dijadikan penutup surat, sebab pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan beratnya tantangan menyebarkan agama karena banyaknya orang munafik, dan kekuatan musuh yang sangat tangguh. Maka, pada ayat ini, orang Islam diperintahkan untuk memiliki kesabaran, keuletan dan komitmen bela negara lebih dari yang dimiliki musuh. Hamka mengatakan, “Hanya penyelam yang tahan lama di dasar laut yang bisa mengambil mutiara. Hanya orang yang sabar, tangguh dan ulet yang sukses dunia akhirat.”

Secara tidak langsung, ayat ini menjelaskan, kesabaran hanya bisa diperoleh dengan usaha yang sungguh-sungguh dan kontinyu. Allah berpesan, “Bersabarlah dan kuat-kuatkanlah untuk bersabar.” Mengingat beratnya kesabaran, maka kita diperintahkan untuk memohon bantuan Allah. Ia mengajarkan kita berdoa, “Wahai Allah kosongkanlah kesabaran (di langit, lalu tuangkanlah di hati) kami, dan wafatkanlah kami sebagai muslim (sejati)” (QS. Al A’raf [7]: 126). Abu Hurairah, r.a mengatakan, raihlah kesabaran, sebab ia kunci untuk meraih pahala yang tak terbatas. “Sungguh, hanya orang-orang yang sabarlah yang diberi pahala tanpa batas” (QS. Az Zumar [39]: 10). Ali bin Abi Thalib, r.a juga mengatakan, kesabaran itu seperti kepala dalam tubuh. Jika kepala sudah tidak ada, maka busuklah jasad kita. Jika tidak ada kesabaran, pasti rusaklah akhlak kita, dan hancurlah masyarakat kita.

Dalam hitungan Imam Al Ghozali, terdapat 70 ayat tentang perintah sabar. Bahkan, ayat perintah memohon pertolongan berupa kesabaran dan shalat diulang dua kali dalam surat yang sama (QS. Al Baqarah [2]: 45 dan 153). Nabi SAW dan para sahabat membaca Surat Al ‘Ashr setiap mengakhiri pertemuan, karena di dalam surat itu terdapat perintah untuk saling menguatkan kesabaran.

Secara garis besar, ada tiga macam sabar, yaitu sabar dalam menjalankan perintah Allah, sabar menjauhi larangan-Nya, dan sabar menghadapi musibah. Dengan versi yang berbeda, Ali bin Abi Thalib, r.a juga menyebutkan dua macam sabar. Pertama, sabar menghadapi sesuatu yang tidak diinginkan, misalnya sakit, miskin, doa yang lama belum dikabulkan Allah, dan sebagainya. Kedua, sabar terhadap sesuatu yang diinginkan. Misalnya, ingin makan dan minum, tapi tidak dilakukan, sebab belum lapar, atau demi orang lain yang lebih membutuhkan. Uraian kali ini fokus tentang sabar menghadapi sesuatu yang tidak diinginkan. 

Ada empat kiat sabar menghadapi kenyataan yang tidak kita inginkan. Pertama, sisi-sisi positif dari kejadian itu harus dicari. Jika sisi positif itu sudah ditemukan, maka Anda akan lebih mudah untuk bersabar, bahkan bersyukur kepada Allah. Misalnya, dalam perjalanan menuju tempat berlibur, Anda bersama istri dan anak terjatuh dari motor, sehingga mengalami luka berat dan patah tulang. Lalu, Anda kembali pulang. Beberapa saat kemudian, ada berita musibah besar, yaitu tanah longsor yang merenggut ratusan nyawa pengunjung. Anda pasti bersyukur, sebab andaikan tidak mengalami kecelakaan, maka Anda sekeluarga ikut terkubur dalam longsoran tanah itu. Jadi, seringkali sebuah musibah diberikan Allah untuk menyelamatkan manusia dari musibah yang lebih besar.  

Al Qur’an juga mengajarkan mencari sisi postif dalam segala hal, termasuk dalam kehidupan rumah tangga, “Dan janganlah kamu melupakan kelebihan (pasangan) di antara kamu. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Baqarah [2]: 237). Baca juga QS. An Nisa’ [4]: 19. Suatu contoh, di saat istri menjengkelkan Anda, segera ingatlah sisi positif istri Anda. Misalnya, “Istriku memang sering marah, tapi dialah yang paling sabar merawat ibuku sekian tahun.” Ketika tetangga mencaci Anda dengan keji, maka jangan lupa, bahwa rumah Anda pernah nyaris terbakar, andaikan tidak cepat dipadamkan tetangga itu.

Kedua, tauhid harus diperkuat, yaitu keimanan bahwa hanya Allah yang mengatur alam semesta ini. Imam Al Fasyani berkata, “Pada hakikatnya, tidak ada pelaku kejadian di dunia ini selain Allah. Jika ada orang datang mencaci Anda, maka Allah lah yang mengirim orang itu untuk menguji keimanan Anda. Jika Anda marah kepadanya, berarti Anda marah kepada Allah.” Jika sadar demikian, lalu beranikah Anda jengkel kepada Allah?

Ketiga, sebab-sebab yang mendorong terjadinya peristiwa yang menjengkelkan itu harus dicari. Jika Anda sakit, bisa jadi akibat kurang olah raga, atau porsi makan Anda yang tidak terkontrol. Jadi, jangan “salahkan” Allah atas penyakit itu. Ketika karyawan Anda salah menjalankan perintah, jangan-jangan diakibatkan perintah Anda yang kurang jelas. Misalnya, perintah itu tidak tertulis dengan jelas, atau hanya disampaikan secara lisan, sehingga kurang didengar oleh karyawan itu. Jadi, jangan tergesa-gesa menyalahkan orang.

Keempat, gunakan kata “belum” sebagai ganti kata “tidak.” Jika anak Anda gagal ujian, jangan katakan “tidak” lulus, tapi katakan, “belum” lulus. Yakinlah, suatu saat, ia lulus. Ia bukan “tidak” berhasil, tapi “belum” sukses. Bukan gagal, tapi hanya sukses yang tertunda.

Contoh lain, gunakan kata “belum” untuk suami Anda yang tidak bekerja. Yakinlah, bahwa  suatu saat, ia akan menghasilkan rizki untuk kebutuhan keluarga. “Hidup Masih Koma, Belum Titik,” itulah judul sebuah buku. Mungkin juga, istri Anda “belum” bisa berbicara sopan dengan mertua. Itu kan sekarang?! Hidup selalu berproses. Yakinlah, ia tidak selamanya bersikap kasar kepada orang tua. Anda juga dituntut bersabar menunggu perubahan seseorang. Sebab, perubahan memerlukan waktu. Allah SWT bisa saja menciptakan alam semesta hanya dalam sedetik. Tapi, Allah menciptakannya selama enam hari, semata-semata untuk mengajarkan kasabaran menuggu sebuah proses.

Empat kiat meraih kesabaran tersebut, agar mudah diingat, saya singkat SITA SEBEL (Sisi positif, Tauhid, Sebab, dan Belum). Selamat berproses menjadi manusia yang lebih tenang, sejuk dan sabar. Sikap positif inilah yang paling membahagiakan keluarga dan paling besar pengaruhnya terhadap kekebalan Anda melawan berbagai penyakit.   

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 4, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 210-211 (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol. 2, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 387-390, (3) Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, 2015, cet. X, p. 152 (4) Moh. Ali Aziz, Doa-Doa Keluarga Bahagia, Penerbit Kun Yaquta Foundation dan PT Duta Aksara Mulia, Surabaya, 2014, cet. III, p. 110.