UINSA Column

KETIKA IoT (INTERNET OF THINGS) MEMASUKI RUANG INTIM KITA

KETIKA IoT (INTERNET OF THINGS) MEMASUKI RUANG INTIM KITA

Laju perkembangan teknologi informasi di abad ini tak terbendung lagi. Kecepatan perubahan yang ditimbulkannya membuat kita terengah-engah tanpa diberi kesempatan berhenti untuk bernafas barang sejenak. Penemuan teknologi komputer dan internet menghadirkan satu dunia yang saat ini hampir menyatu secara identik dengan dunia yang kita alami sehari-hari, dunia maya atau cyberspace.

Segala hal yang bisa kita lakukan di dunia alamiah kita sehari-hari, bisa kita temukan substitusinya di dunia maya, sebut saja misalnya cyber-economy, cyber-community, cyber-society, cyber-politics, cyber-sexuality, dan lain sebagainya. Melalui media internet, kita bisa berinteraksi tanpa dibatasi jarak dan waktu. Belanja, kuliah, berteman, berkencan, berdiskusi, tak perlu lagi dilakukan dengan hadir secara fisik, tetapi cukup secara virtual, kita akan mengalami pengalaman interaksi secara realtime layaknya di dunia nyata.

Internet of things atau disingkat IoT adalah wujud perkembangan baru yang kerap kita dengar akhir-akhir ini. Istilah ini terdiri dari “internet” dan “things”yang berarti internet untuk segala. Perkembangan baru ini menunjukkan integrasi internet dengan segala perangkat elektronik yang memungkinkan untuk “ditanami” internet. IoT menghubungkan Perangkat elektronik dengan sistem otomatis melalui internet. Sensor yang dipasang pada perengkat elektronik akan mendeteksi dan mengumpulkan data yang lalu diolah oleh artificial intellegent yang ditanamkan pada program. Olah data tersebut kemudian menghasilkan perintah yang dikirim melalui koneksi internet dalam suatu perangkat. Perintah itu kemudian dieksekusi oleh perangkat elektronik. IoT dengan demikian adalah bentuk komunikasi antar mesin dan jaringan atau yang disebut dengan M2M (Mechine To Mechine) sehingga tidak ada campur tangan manusia di situ.

Contoh IOT sederhananya dapat kita lihat pada rumah pintar, lampu yang terintegrasi dengan internet dapat kita nyalakan dan matikan, atau kita ganti warna cahayanya melalui ponsel meskipun kita tidak sedang di rumah. Mesin pemanas air, AC, microwave, mesin pembuat kopi, maupun mesin penyiram tanaman otomatis, bisa kita nyalakan sebelum kita sampai di rumah dengan hanya sekali klik pada aplikasi ponsel kita. Di bidang industri dan bisnis serta bidang kehidupan lainnya, IoT telah banyak dimanfaatkan untuk efisiensi kerja dan meningkatkan produktivitas.

Nah, apa jadinya jika internet juga terintegrasi dengan pakaian dalam? Perusahaan kondom Australia dengan penjualan terbesar kedua di Amerika, membuat satu produk yang menurut mereka dapat mengatasi problem relasi seksual pasangan LDR (Long Distance Relationship). Produk yang berupa celana dalam boxer pria dan kutang serta celana dalam wanita ini, menggabungkan antara teknologi, internet, fashion, dan seks. Di dalam pakaian dalam ini ditanam vibrator yang bisa digetarkan jarak jaruh melalui aplikasi di ponsel masing-masing. Pada ponsel pria tampil gambar kutang dan celana dalam wanita, dan pada ponsel wanita tampil celana dalam pria. Masing-masing pasangan dapat melakukan rangsangan jarak jauh kepada pasangannya dengan menyentuh pakaian dalam yang tampil di layar ponsel masing-masing. Masing-masing akan merasakan getaran vibrator karena sentuhan pasangannya, meskipun dilakukan jarak jauh.

Dalam dunia relasi seksual di ruang siber, produk ini termasuk baru. Jika sebelumnya budaya seks di ruang maya hanya bisa dilakukan melalui kata-kata atau video, melalui videocam atau skype, dengan alat ini, rangsangan seksual dapat dirasakan secara nyata oleh pasangan. Jika kegiatan seksual di ruang maya selama ini hanya berlangsung dalam imaginasi, maka dengan temuan baru ini, kegiatan seksual itu berlangsung secara riel. Kenyataan ini semakin menguatkan kemungkinan terintegrasinya dunia maya dan dunia nyata dalam kehidupan sehari-hari manusia di masa yang akan datang.

Budaya seks di ruang maya ini tentu saja menyisakan problem bagi hukum keluarga Islam. Pernikahan dalam berbagai pendefinisian ulama mazhab dikatakan sebagai akad yang menghalalkan hubungan seksual. Hubungan seksual menjadi persoalan sentral dalam hukum keluarga Islam, karena pernikahan sejatinya adalah solusi bagi perbuatan yang sangat terlarang dalam Islam, yaitu zina.

Selain itu, dari hubungan seksual, lahir berbagai konsekuensi hukum lainnya. Sebut saja mahar, hubungan seksual menentukan jumlah mahar terhutang yang harus dibayarkan. Kalau hubungan seksual sudah dilakukan suami istri (ba`da al-dukhul), maka mahar harus dibayar penuh ketika terjadi perceraian, jika belum maka separuh. Nafkah misalnya, suami berkewajiban memberi nafkah, ketika istri dalam kondisi tamkin, yaitu kondisi bersedia melakukan hubungan seksual. Jika tidak, maka suami tidak berkewajiban memberi nafkah. Hubungan seksual juga menentukan keharaman seorang laki-laki menikahi anak tirinya. Ketika ia telah berhubungan seksual dengan ibu si anak, maka sang anak haram baginya. Ketiadaan hubungan seksual juga dapat menjadi alasan perceraian, baik suami maupun istri dapat mengajukan cerai ke Pengadilan Agama jika memang terjadi masalah dalam relasi seksual mereka. Tak heran jika ulama mengatakan bahwa al-nikahu al-wat’u, karena relasi seksual memang menempati posisi sentral dalam perkawinan Islam, di samping relasi sosial dan ekonomi.

Masalahnya, bagaimana jika hubungan seksual itu dilakukan secara virtual? Jika pasangan LDR hanya melakukan hubungan seksual secara virtual, apakah ketika bercerai sudah dapat dikatakan ba`da dukhul atau telah terjadi persetubuhan? Sudah wajibkah nafkah? Sudah haramkah menikahi anak tiri? Atau bisakah istri menggugat cerai suami dengan alasan tidak terpenuhi kebutuhan seksualnya? Jika hubungan seksual secara virtual itu dilakukan dengan bukan pasangan, dapatkah disebut zina sehingga bisa dijadikan alasan perceraian? Masalah-masalah hukum keluarga ini akan terus menguat di masa yang akan datang seiring massifnya penggunaan teknologi internet. Terutama bagi hakim Pengadilan Agama, kasus-kasus terkait hubungan seksual secara virtual ini, akan menjadi perkara yang akan banyak diajukan masyarakat di era digital.

Menghadapi kultur dunia maya (cyberculture) kita mengalami persoalan ontologis. Ada masalah dengan cara kita mendefisikan “nyata”. Apa yang disebut “nyata” di dunia maya apakah bisa disamakan dengan “nyata” di dunia alamiah kita? Apakah keberadaan hubungan seksual di dunia maya, sama nyata dengan hubungan seksual di dunia alamiah? Atau bisakah hubungan seksual di dunia maya itu dianggap tidak ada, meski pelaku merasakan sentuhan nyata layaknya di dunia alamiah?

Problematika hukum keluarga di dunia maya, tentu saja memerlukan perhatian tersendiri. Tetapi satu hal yang pasti, interaksi manusia di dunia maya melahirkan budaya baru (cyberculture) sebagai produknya. Dalam konsep hukum Islam, adat atau budaya suatu masyarakat haruslah dipertimbangkan dalam menetapkan hukum bagi masyarakat itu, sehingga dalam kaidah ushul Mazhab Hanafi dinyatakan, bahwa al-ma’rufu `urfan ka al-mashruti nassan, apa yang diketahui berdasarkan ‘urf adalah seperti yang disyariatkan oleh nass.  Konsep `urf, dengan demikian perlu diperluas, jika Jasser Audah menyatakan, bahwa `urf tidak hanya berlaku bagi tradisi masyarakat Arab, tetapi juga bagi adat istiadat masyarakat muslim secara keseluruhan, maka di era digital, `urf tidak hanya berlaku bagi dunia nyata, tetapi perlu ada cyberspace`urf atau `urf ruang maya. Agar problem hukum keluarga dapat terpecahkan sekaligus menjawab tantangan zaman.

 

Penulis:

Dr. Ita Musarrofa, M.Ag

Ketua Program Studi Hukum Keluarga Islam

Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya