UINSA Column

KETAHANAN EKONOMI LOKAL

KETAHANAN EKONOMI LOKAL

Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik UIN Sunan Ampel Surabaya dengan bangga mempersembahkan acara “The 2nd International Conference UIN Sunan Ampel Surabaya (SAICoPSS 2022)” dengan tema utama “Post-Pandemic Recovery: Embracing Social and Political Changes, Reviving Religious Activities” yang diselenggarakan pada tanggal 12-13 April 2022 melalui online zoom meeting. Rangkaian dari kegiatan tersebut dituangkan dalam sesi parallel session.

Disalah satu sesi paralel dengan sub tema “Local Economic Resilience” dimoderatori oleh M. Jave Zulkarnaen, MA (Dosen HI FISIP UINSA) yang dihadiri oleh 3 pemateri yaitu Arin Ramadhiani Soleha dari IAI Ponorogo dengan judul “Economic Contraction vs Mental Beggars During the Covid 19 Pandemic 2021”, Nurhairunnisa Tasrif dari UGM dengan judul “Post Pandemic Economic Recovery: A Study of Women Breadwinners in Local Traditional Ceremonies of Gadur Community Padang Pariaman, West Sumatra”, dan Ahmad Muwafiq Rosyadi dari UNAIR dengan judul “The Impact of the Gig Economy on Students Mental Health and Well-Being during the Pandemic: Case Study of University Students in East Java, Indonesia”.

Arin Ramadhiani Soleha menyampaikan bahwa munculnya kontraksi ekonomi selama pandemi COVID-19 serta meningkatnya masalah sosial, seluruhnya merujuk pada bagaimana pembentukan karakter yang terjadi karena, alasan klise sebagai rasionalisasi kelompok masyarakat dalam memaknai dana bansos dari pemerintah telah menjadi masalah sosial baru, yakni munculnya jiwa pengemis yang selalu merasa berhak mendapatkan menerima dana bantuan sosial dari pemerintah. Tanpa diimbangi dengan jiwa merubah kehidupan dalam mengelola dana pemerintah ke hal-hal yang bermanfaat dan tidak konsumtif.

Sedangakan Nurhairunnisa Tasrif menyimpulkan bahwa Pertama, latar belakang penduduk setempat yang berprofesi sebagai petani, membuat mereka sulit untuk bergerak dari krisis ekonomi di masa pandemi. Kedua, di era kenormalan baru, upacara adat yang ditandai dengan Malamang, Baralek, dan Bajamba mulai digelar kembali, sekaligus menandai kebangkitan semangat ekonomi masyarakat setempat. Ketiga, Merawat dan merevitalisasi tradisi menjadi perhatian utama masyarakat Gadur. Terlepas dari ketergantungan ekonomi pada tradisi lokal (pernikahan, peringatan kematian, agenda sosial dan tradisi hari besar Islam) Perempuan pencari nafkah masih mempertahankan mekanisme solidaritas. Memang tumpang tindih ekonomi dan budaya namun perempuan pencari nafkah tidak melupakan kewajiban sosialnya untuk menjaga dan merevitalisasi tradisi leluhur, mempertahankan jati dirinya sebagai suku Minangkabau.

Pemateri terakhir Ahmad Muwafiq Rosyadi menyampaikan bahwa lebih dari 50% responden setuju bahwa bekerja di sistem gig economy selama pandemi telah berkontribusi pada masalah kesehatan mental dan kesejahteraan mereka. Oleh karena itu, mereka juga setuju bahwa perusahaan harus memberikan bantuan kepada karyawan dan pekerja magang yang menghadapi masalah seperti itu, terutama kelelahan kerja yang dapat dilihat melalui memburuknya kinerja mereka di tempat kerja. Hingga penghujung acara, konferensi internasional ini berlangsung cukup kondusif dan diakhiri dengan tanya jawab antara peserta dengan pemateri. (MJZ)