UINSA Column

IN MEMORIAM H.M. ACHJAR: CONTOH PEKERJA KERAS

IN MEMORIAM H.M. ACHJAR: CONTOH PEKERJA KERAS

 

Oleh: Prof. H. Nur Syam, M.Si., Guru Besar UINSA Surabaya

***

Pagi pukul 5.00 WIB, Prof. Ridlwan Nasir menelpon saya bahwa Pak Muhammad Achjar meninggal dunia. Tentu saja saya kaget, sebab selama ini tidak pernah terdengar Beliau sakit. Kematiannya memang mendadak karena sakit perut, dua hari saja.  Demikian yang dituturkan menantunya, Dr. Muchid, dosen pada UIN Sunan Ampel. Kabar  kematian Pak Achyar menggenapi berita-berita kematian di WAG UINSA yang akhir-akhir ini memang sedang banyak terjadi peristiwa kematian. Ada yang berdua bersaudara, Mbak Maryam dan adiknya, Mutmainnah, staf pada UINSA dan bahkan Pak Fajruddin Fatwa kehilangan tiga orang sekaligus, Ibu dan dua adiknya. 

Pak Achyar merupakan Priyantun Tuban, tepatnya dari Kecamatan Plumpang, Tuban. Pada waktu saya menjadi siswa PGAN Tuban, saya pernah datang ke rumahnya, sebab adiknya, Umi Fathimah (alm) adalah kawan saya sekelas. Tentu saja saya belum mengenal Pak Achyar, yang kala itu sudah berada di Surabaya untuk mengais ilmu di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel. Beliau adalah tipe aktivis, baik di organisasi PMII maupun NU di kelak kemudian hari. Selain mengabdi di IAIN Sunan Ampel, Pak Achyar juga mengembangkan Universitas Sunan Giri (UNSURI)  di Surabaya. Saya rasa Pak Achyar sempat juga menjadi pejabat di UNSURI dalam waktu yang cukup lama, bersama dengan Prof. Ridlwan Nasir. 

Pak Achyar dan Prof. Ridlwan adalah dua sejoli yang runtang-runtung ke mana saja. Baik di kala Pak Achyar menjabat sebagai Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat (P2M)  IAIN Sunan Ampel maupun ketika Pak Achyar menjadi Pembantu Rektor II IAIN Sunan Ampel. Waktu itu saya menjadi orang ketiganya. Kami bertiga sering pergi ke daerah-daerah binaan IAIN Sunan Ampel di Ngawi maupun Bojonegoro. Program bantuan sapi untuk masyarakat tertinggal merupakan program IAIN Sunan Ampel, melalui P2M. Pak Achyar adalah pandeganya. Pak Achyar adalah tokoh KKN untuk IAIN Sunan Ampel.  Hal ini dimotivasi oleh kenyataan bahwa  Beliau pernah menjadi tenaga kerja suka rela, TKS-BUTSI,  yang mengabdi di Wilayah Sulawesi Utara, tepatnya di Kepulauan Sangihe. Beliau pernah bercerita kalau sering pergi rekreasi ke Filipina karena jaraknya yang dekat. Pak Achyar juga pernah bercerita kalau pernah menjadi tukang cukur  pada waktu belajar sebagai mahasiswa IAIN Sunan Ampel. Beliau memang seorang pekerja yang tidak merasa malu dengan pekerjaannya. Hal ini dipicu oleh kenyataan bahwa Beliau harus sukses belajar di IAIN sementara itu harus menafkahi dirinya sendiri. Beliau tipe lelaki mandiri yang sukses meniti karirnya.

Saya mengenal beliau pada waktu  sudah menjadi dosen di IAIN Sunan Ampel. Pak Achyar sudah terlebih dahulu menjadi dosen dan mengabdikan dirinya pada bidang administrasi dan kemudian menjadi kepala P2M IAIN Sunan Ampel. Saya menjadi sangat dekat ketika diminta untuk menjadi tim ahli pada P2M, bersama Pak Nurkholis dan Pak Misbahul Munir, seingat saya kemudian juga Pak Basid Ismail, yang diajak untuk menjadi tim ahli. Sebenarnya bukan tim ahli tetapi tim pekerja, yang berfungsi mengerjakan tugas-tugas di P2M. Begitu dekatnya hubungan saya dengan Pak Achyar, maka saya sering dikirim ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan  tim pendamping pengabdian masyarakat tingkat nasional. Saya ingat pertama kali saya naik pesawat bersama Beliau dalam perjalanan dari Surabaya ke Jakarta. Kalau tidak salah pelatihannya diselenggarakan di Ciawi, tahun 1994. 

Pak Achyar adalah seorang  pekerja keras yang  ditempa oleh pengalaman hidup, maka di kala menjadi pejabat maka kerja keras itu pula yang dilakukannya. Beliau memiliki kemampuan membangun jejaring yang sangat baik, misalnya di dalam pengembangan fisik IAIN Sunan Ampel, maka dilakukanlah relasi humanistik dengan Kepala Biro Perencanaan Kemenag Pusat, Pak Zainal Abidin, dan juga relasi dengan Pemda Jawa Timur dan instansi terkait. Berbagai penelitian yang merupakan kerja sama dengan Pemda tersaji dengan sukses. Misalnya penelitian tentang Pemetaan Industri Pedesaan di Jawa Timur bekerja sama dengan Pemda Jawa Timur. Pak Basofi Sudirman pada waktu itu sedang menggalakkan program “One Village One Product”. Maka IAIN Sunan Ampel dipercaya untuk memetakan potensi industri pedesaan di Ngawi dan Bojonegoro. Pada  saat Pemda Jawa Timur memberikan bantuan beras kepada masyarakat di Jawa Timur Bersama BULOG, maka IAIN Sunan Ampel mendapat jatah evaluasi di Kabupaten Situbondo dan Probolinggo. Sebagai pekerja keras, Pak Achjar menyatakan siap dalam waktu hanya dua bulan untuk evaluasi ini.  

Saya tentu sangat bersyukur bisa banyak belajar dari  pekerja keras tersebut. Saya belajar pada beliau tentang membangun relasi dengan para pejabat, terkait dengan pengembangan IAIN Sunan Ampel. Saya juga belajar membangun relasi dengan para pejabat di tingkat provinsi Jawa Timur, lalu saya juga banyak belajar tentang bagaimana mencari program kerja yang bermanfaat bagi pengembangan IAIN Sunan Ampel. Setiap selesai dari Jakarta, Beliau selalu cerita program apa yang didapatnya. Sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi para yuniornya. 

Beliau menjabat sebagai Purek II Urusan Administrasi Umum, pada tahun 2000-2004, pada masa jabatan Prof. HM. Ridlwan Nasir sebagai Rektor IAIN Sunan Ampel. Saya juga teringat Beliau yang menawari saya untuk menjadi Sekretaris Kopertais Wilayah IV tentu setelah didiskusikan dengan Prof. Ridlwan. Sebagai individu yang membantu Rektor, maka setiap hari Pak Achjar memberikan laporan pekerjaannya. Kala saya pergi dengan Pak Ridlwan ke Situbondo, maka Pak Achjar menelponnya, dan Pak Ridlwan setelah itu memberi komentar: “Pak Achjar ini pejabat yang loyal, Pak Achyar selalu memberikan laporan tentang aktivitasnya kepada saya”. Makanya, Ketika Pak Ridlwan mengikuti program di Lemhanas, maka Pak Achyar lah yang ditunjuk menjadi Pelaksana Harian (Plh. Rektor).

Ada peristiwa yang tidak pernah saya lupakan, yaitu di saat Prof. Ridlwan terpilih kembali sebagai Rektor IAIN Sunan Ampel pada periode ke II, maka Prof. Ridlwan menginginkan saya yang menjadi Pembantu Rektor II. Maka belajar dari apa yang diajarkan oleh Pak Achyar, bahwa komunikasi dari hati ke hati itu sangat penting, maka saya datangi Pak Achyar di ruang Pembantu Rektor II dan saya nyatakan: “Cak Yar, saya diminta oleh Prof. Ridlwan untuk menjadi PR II, bagaimana pendapat sampeyan.” Maka sebagai senior yang selalu mengayomi yuniornya, maka beliau memberikan respon mendukung dan mempersilahkan saya untuk menggantinya. Peristiwa ini tidak akan pernah saya lupakan, dan ini menggambarkan suatu peristiwa “the power of humanistic relation.” 

Pak Drs. H. Muhammad Achyar lahir  17 Agustus 1949 dan menjadi dosen pada Prodi Aqidah dan  Filsafat pada UIN Sunan Ampel Surabaya. Beliau meninggal pada 11 Juli 2021, pukul 02.00 WIB  dini hari. Sebelum wafat, Beliau masih berkesempatan menjadi pembimbing jamaah Umrah. Terakhir beliau bertemu saya dan mengungkapkan rasa syukurnya, bahwa di usia senja memperoleh nikmat Allah untuk mengunjungi Ka’baitullah berkali-kali. 

Selamat jalan Cak Yar, kami meyakini panjenengan orang yang baik, pekerja keras dan berhasil memberikan sumbangan nyata bagi pengembangan IAIN Sunan Ampel yang kini sudah menjadi UIN Sunan Ampel. Kami yakin Allah akan memberikan kepada penjenengan tempat yang terbaik, surga di alam akhirat. Amin. Lahu al Fatihah.

Wallahu a’lam bi al shawab.