UINSA Column

ETIKA PEMBELAJARAN DEMI KEBERKAHAN

ETIKA PEMBELAJARAN DEMI KEBERKAHAN

Oleh: Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag.
Guru Besar UINSA Surabaya

https://mtsannurtempo.blogspot.com/2013/06/macam-macam-metode-pembelajaran.html

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan dalam berbagai pertemuan,” maka, lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan kepadamu. Dan, jika dikatakan, “Berdirilah,” maka, berdirilah, niscaya Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa tingkatan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Mujadilah [58]: 11)

 

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan larangan pembicaraan yang mengarah kepada perbuatan dosa. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan etika lainnya yang harus dipatuhi dalam setiap pertemuan, termasuk pembelajaran.

Menurut Muqatil bin Hubban, ayat ini turun pada hari Jumat, ketika Nabi SAW sedang memberi pengajaran di bawah tenda Shuffah, tempat penampungan para sahabat yang tidak memiliki tempat tinggal. Pada acara itu, penduduk asli Madinah (anshar) dan pendatang dari Makkah (muhajirin) berkumpul, dan berusaha mendekat Nabi. Di tengah pengajian, beberapa veteran Badar datang dan memberi salam. Hadirin hanya menjawab salam, tapi tidak memberi tempat mereka, padahal para veteran itu selalu disebut-sebut Nabi sebagai orang-orang terhormat dan dimuliakan Allah SWT. Maka, Nabi menyuruh hadirin berdiri untuk memberi tempat mereka. Mereka berdiri, namun dengan wajah yang cemberut. Sebagian mereka berbisik, “Demi Allah, ini tidak adil.” Mereka menggerutu, sebab mereka datang lebih awal dengan tujuan agar bisa mendekat Nabi, tapi setelah mendapat tempat yang nyaman, diminta pindah. Saat itulah, Nabi SAW bersabda:

  

رَحِمَ اللهٌ رَجُلًا يَفْسَحُ لِاَخِيْهِ

“Semoga Allah merahmati orang yang memberi tempat saudaranya” (HR. Ibnu Abi Hatim)

 

Sedangkan menurut Ibnu Abbas, r.a, ayat ini turun karena Tsabit bin Syammas, r.a datang terlambat dalam sebuah pertemuan di masjid, dan berusaha mendapat tempat di dekat Nabi. Maka, gegerlah para sahabat menyikapi tamu itu. Nabi baru tahu, bahwa tamu itu sengaja mendekat Nabi, sebab ia tuli. Maka, turunlah ayat ini.

Berdasar ayat ini, agar pembelajaran, termasuk kajian keagamaan menghasilkan ilmu yang berkah, yaitu menambah iman, ilmu dan kemuliaan, maka perhatikan tiga etika pembelajaran. Pertama, jangan acuh, masa bodoh, apalagi marah kepada orang yang datang terlambat. Sebaiknya, Anda berjiwa besar, rendah hati, mengalah memberi tempat mereka. Tak apalah posisi duduk Anda menjadi tak nyaman. Tapi, bergembiralah, sebab, dalam ayat ini, Allah berjanji akan melapangkan rizki di dunia, dan menyiapkan ruangan di surga yang longgar, nyaman dan menyenangkan untuk Anda.  Memang, idealnya “fisrt come, first served,” yang artinya, siapa yang datang pertama kali berhak mendapat layanan pertama kali. Orang yang datang lebih awal berhak mendapat tempat yang lebih nyaman. Tapi, kejadian yang tidak menyenangkan itu sengaja didatangkan Allah kepada Anda, yang dipanggil dalam ayat ini sebagai orang-orang beriman, untuk menguji sejauhmana akhlak Anda. Allah ingin mengetahui apakah Anda orang beriman dan berakhlak, ataukah orang beriman tanpa akhlak. Sebab, salah satu ciri orang mukmin adalah,

 

وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٌۚ

“Dan mereka (penduduk Madinah) itu mengutamakan (para pendatang dari Makkah) daripada mereka sendiri, meskipun mereka memerlukan” (QS. Al Hasyr [59]: 9).

 

Kedua, taatilah narasumber, dan patuhilah aturan panitia pelaksana. Misalnya, ketika dimohon bergeser tempat, berganti posisi, berdiri, dan sebagainya, maka segera lakukan. Tunjukkan kepada dunia, bahwa Anda muslim pecinta ketertiban dan benci kegaduhan. Bagaimana mungkin proses pembelajaran berjalan dengan baik, jika nara sumber dan pembelajar merasakan situasi yang tidak nyaman? Perintah berlapang-lapang dalam ayat lebih diarahkan pada kelapangan hati untuk menghormat orang lain. Orang mukmin selalu berlapang hati demi penghormatan kepada orang lain. Narasumber yang dimaksud dalam ayat ini bukan hanya ustad, kiai, imam dan sebagainya, tapi semua ilmuwan yang iman dan akhlaknya meningkat setelah merenungkan semua kejadian dan makhluk Allah (QS. Fathir [35]: 27-28).

Ketiga, ilmu yang diperoleh dari pembelajaran itu harus dilandasi keimanan. Jadi, terjadi perpaduan antara otak dan hati, antara iman dan ilmu, antara ilmu dan akhlak, dan antara pikir dan zikir. Itulah manusia ulul albab yang disebut dalam QS. Ali Imran [3]: 190-191, “Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang ulul albab, yaitu orang-orang yang zikir (mengingat Allah) sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, (seraya berkata), "Wahai Tuhan kami, tidalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.  Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Ayat ini memberi jaminan ketinggian martabat, kemuliaan, dan wibawa bagi siapa pun yang memiliki keimanan yang berbasis keilmuan, dan keilmuan yang melahirkan akhlak mulia. Jika tidak seimbang antara keduanya, maka seseorang tidak akan bisa meraih kejayaan dan kemuliaan. Prof. Hamka mengatakan, “Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi, dan ilmu tanpa iman, bagaikan lentera di tangan pencuri.” Seharusnya lentera digunakan untuk menerangi manusia agar tidak tersesat, tapi karena tak berakhlak, maka lentera itu justru digunakan untuk mencuri dan menyengsarakan orang. Ilmuwan Yahudi, Albert Einstein juga mengatakan, “Science without religion is blind; religion without science is lame” (Ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu lumpuh).  

Anda bisa belajar darui burung. Ia bisa yang terbang tinggi, karena dua sayapnya terpadu geraknya. Silakan terbang ke langit keberkahan dengan sayap ilmu dan iman. Jika tidak seimbang antara dua sayap itu, bersiaplah jatuh, tersungkur ke dalam jurang.

 

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 28, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 26-31 (2) M. Qureish Shihab, Tafsir Al Misbah, vol. 13, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 488-491.