UINSA Column

DOA-DOA MONUMENTAL

DOA-DOA MONUMENTAL

Allah mengabadikan dalam Al-Qur'an banyak doa monumental, diantaranya tiga doa yang dihimpun dalam ayat 83, 87, dan 89 Surat Al-Anbiya'. Tiga doa ini bisa disebut monumental karena dipanjatkan oleh tiga Nabi pilihan, dipanjatkan dengan redaksi yang istimewa, dan berisi sesuatu yang tampak mustahil untuk ukuran manusia namun kemudian dikabulkan oleh Allah. Ketiga doa ini dihimpun dalam tiga ayat yang berdekatan untuk menegaskan bahwa Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan doa, juga untuk menjadi pelajaran bagaimana seharusnya seorang hamba bermunajat kepada Tuhannya.

 

Doa pertama adalah doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ayyub a.s. ketika menderita penyakit yang begitu parah dan tak kunjung sembuh. Ia menyeru: "Tauhanku, sungguh aku sedang ditimpa penderitaan, padahal Engkau adalah Maha Pengasih," (Al-Anbiya': 83). Allah kemudian mengabulkan doanya dan sembuhlah ia dari penyakit parah yang sekian lama menggerogoti fisik, harta, keluarga, dan bahkan kehidupan sosialnya itu.

 

Doa kedua adalah doa yang dipanjatkan oleh Nabi Yunus a.s. ketika berada dalam gelapnya perut ikan. Ia menyeru: "Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, Sungguh Aku ini termasuk orang-orang yang zalim," (Al-Anbiya: 87). Allah kemudian mengabulkan doanya dan ia dimuntahkan dari dalam perut ikan dan terdampar di pantai dalam keadaan selamat.

 

Doa ketiga adalah doa yang dipanjatkan oleh Nabi Zakariyya a.s. ketika sudah berusia sangat sepuh dan belum mendapatkan keturunan. Beliau bermunajat, "Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku sendirian (tanpa anak keturunan) padahal Engkau adalah Maha memberi keturunan," (Al-Anbiya': 89). Allah mengabulkan doanya dan kemudian punya anak (Nabi Yahya a.s.), walaupun saat itu Ia sudah berusia lebih dari seratus tahun dan istrinya juga sudah tua dan mandul.

 

Ketiga Nabi tersebut hidup dan berdakwah di tempat dan masa yang berbeda. Nabi Ayyub hidup dan berdakwah di Suriah dan wafat sekitar tahun 1420 SM, Nabi Yunus di Irak dan wafat sekitar tahun 750 SM, dan Nabi Zakariyya di Palestina dan wafat sekitar tahun 31 M. Tapi Alquran menghimpun doa mereka dalam rangkaian ayat-ayat yang berdekatan dalam satu Surat. Salah satu hikmahnya adalah agar kita bisa mengambil pelajaran tentang bagaimana cara berdoa dan amalan apa yang harus dilakukan agar doa terkabul.

 

Lalu, apa rahasia doa tiga Nabi ini dikabulkan oleh Allah? 

 

Di akhir rangkaian tiga doa tersebut, Allah mengungkapkan jawabannya: "Mereka itu dulu adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam melakukan kebaikan (Yusaari'uuna fil khairaat), mereka berdoa kepada Kami dengan perasan harap dan cemas (Yad'uunana raghaban wa rahaban), dan mereka juga adalah orang-orang yang khusyuk dalam beribadah (kaanu lana khaasyi'iin)," (Al-Anbiya: 90).

 

Rahasia pertama doa mereka dikabulkan adalah karena mereka selalu bersegera dalam berbuat kebaikan. Artinya, mereka selalu menunaikan hak Allah pada kesempatan pertama. Buat mereka, kebaikan bukan lagi soal dilakukan atau tidak, tapi sudah pada level "dilakukan dengan segera" atau "dilakukan dengan ditunda-tunda". Mereka selalu ingin terlihat bersemangat oleh Allah dalam melakukan setiap kebaikan, dan inilah rahasia kenapa doa mereka dikabulkan.

 

Rahasia kedua adalah karena mereka berdoa dengan perasan penuh harap dan cemas. Di satu sisi mereka begitu mengaharapkan rahmat dan pertolongan Allah, tapi pada saat yang sama mereka juga menyimpan rasa cemas dan takut kalau doa yang dipanjatkan tidak dikabulkan oleh-Nya. Rasa harap datang dari keyakinan bahwa Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan doa, sementar rasa cemas datang dari beratnya keadaan dan masalah yang dihadapi.

 

Nabi Zakariyya sangat yakin Allah Maha Kuasa dan Maha Memberi, tapi Ia juga menyadari kondisinya yang sudah sepuh dan istrinya yang mandul. Maka, dengan penuh harap dan cemas Ia berdoa agar diberikan keturunan. Dan ketika doanya dikabulkan, serasa tidak percaya Ia berkata, "Bagaimana mungkin saya punya anak, sementara saya sudah sepuh dan istriku mandul," (Ali Imran: 40).

 

Rahasia ketiga adalah karena mereka khusyuk dalam beribadah. Khusyuk disini adalah kepasrahan yang total di hadapan Allah sebagaimana yang tampak dalam doa mereka. Lihatlah redaksi doa Nabi Ayyub, tak sepatah katapun Ia minta disembuhkan dari penyakitnya. Dengan pasrah, Ia sepenuhnya menyerahkan nasibnya di tangan Allah dan hanya berucap "Tuhanku, Saya dilanda penderitaan, padahal Engkau adalah Maha Pengasih." 

 

Lihat juga doa Nabi Yunus. Ia tidak menyebut dalam doanya permintaan agar diselamatkan dari dalam perut ikan. Dengan kepasrahan yang begitu dalam, dalam kondisi begitu dekat dengan kematian, dan dalam kegelapan yang berlipat (gelap malam, gelap dasar laut, dan gelap perut ikan), Ia  hanya menegaskan tauhidnya, memahasucikan Tuhannya, dan mengakui kezaliman dirinya melalui seuntai ucapan doa: "Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, Sungguh aku ini orang yang zalim."

 

Doa para Nabi tersebut adalah pelajaran buat kita, bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan, terlebih jika kita bersegera dalam melakukannya, adalah wasilah bagi terkabulnya doa kita. Semakin banyak kebaikan kita, dan semakin bersegera kita melakukannya, semakin besar peluang doa kita dikabulkan. 

 

Cara mereka berdoa juga memberikan kita pelajaran bahwa kepasrahan diri dan kekhusyukan di hadapan Allah akan menghantarkan doa kita terkabul oleh-Nya. Karena sesungguhnya doa adalah titik bertemunya kemahakuasaan Allah dan keterbatasan kita sebagai hamba. Maka, sebagai hamba yang lemah, tak ada yang lebih penting untuk kita tunjukkan di hadapan Allah selain keberhambaan dan ketundukan yang total kepada-Nya.