UINSA Column

Cerpen: Para Perempuan

Cerpen: Para Perempuan

"Entah apa yang sesungguhnya terjadi pada pagi?  Dia tak sebahagia seperti biasanya." Ujar Kinasih

"Kau tahu, aku merasa sore kemarin juga tak seceria  biasanya. Apa mungkin mereka  akan bertukar peran?" Sahut si Umi.

"Apa maksudmu bertukar peran? Apa sore akan menjadi pagi dan pagi menjadi sore?" Timpal Kinasih.

"Bagiku pagi atau sore tidak ada bedanya. Kalau aku masuk pagi akan pulang sore dan jika aku masuk sore akan keluar dari pabrik pagi hari. Aku bahkan tak pernah merasai keduanya." Ujar si Upik.

"Buat apa kalian meributkan pagi dan sore ? Aku bahkan sudah berusaha melupakan keduanya. Apa masih punya makna membincangkannya? Kita ini cuman bisa menjalani ritual sebagai bagian dari mesin industri yang bukan kita pemiliknya. Kita sudah tidak pernah merasakan lagi apa itu pagi, siang, sore atau malam. Lampu di dalam ruang kerja kita menyala 24 jam menggantikan matahari dan bulan. Aku bahkan tak sempat menceritakan kisah cinta kedua penerang alam (Matahari dan Bulan) itu pada anak2ku. Padahal itulah kemewahan yang pernah aku rasakan bersama kedua orang tuaku. Aku cuman bisa membodohi anakku dan diriku sendiri dengan permainan android." Papar Nila.

Tiba-tiba sepi menyergap setelah Nila mencurahkan rasa hatinya. Semua menunduk lelah di halte pinggir jalan yang sesak oleh pedagang dadakan yang menjajahkan beragam kebutuhan harian pada para buruh pabrik rokok itu."

 

Oleh: M. Khodafi