UINSA Column

Alumni Magister AFI, Akan Eksis di Mana?

Alumni Magister AFI, Akan Eksis di Mana?

Alumni Magister AFI, Akan Eksis di Mana?

Oleh: Dwi Astiti Hadiska Putri

Mahasiswa Magister Aqidah dan Filsafat Islam 2018-2020, saat ini bekerja sebagai Bobbinizing Supervisor di Scandinavian Tobacco Group, Pandaan. 

 

Sebagai lulusan Magister Aqidah dan Filsafat Islam, sering sekali ada pertanyaan, pekerjaan apa yang bisa dilakukan setelah lulus nantinya. Kenyataan yang ada di dunia kerja dan ini perlu untuk diketahui: tidak sedikit orang yang mendapatkan pekerjaan tidak linier dengan ijazahnya, atau tidak merujuk pada syarat lulusan prodi tertentu.  Beberapa jenis pekerjaan lebih membutuhkan soft skill, yang kemudian bisa diisi oleh  alumni dari beragam program studi.  Di sini saya menggarisbawahi dunia kerja sebagai profesional (supervisor) di sebuah Perusahaan Asing,  dalam posisi saya sebagai  alumni Aqidah dan Filsafat Islam (AFI).

Filsafat adalah the mother of sciences, sehingga  pembelajaran di dalamnya mencakup tema-tema yang luas mulai diri manusia sampai alam semesta, namun memiliki karakter yang spesifik baik dari aspek perspektif maupun metodologisnya. Ini membuat statement bekerja tidak bisa tidak sesuai dengan program studinya,  bisa tidak berlaku untuk alumni filsafat. Para profesional di perusahaan misalnya,  membutuhkan kemampuan problem solving, dan dalam konteks ini kita bisa menjumpai Hegel melalui metode  dialektika thesa-antithesa-sintesa. Metode yang  dikembangkan di abad 19 ini, masih relevan dalam membantu  memecahkan masalah di seputar dunia kerja, karena kita sering dihadapkan realitas yang kemudian dihadapkan pula pada realitas lain yg berlawanan, sehingga kita dituntut untuk menemukan  sintesisnya.

Ada beberapa keuntungan yang akan didapatkan sebagai mahasiswa Magister AFI  yang terjun ke dunia kerja sebagai profesional,  salah satunya adalah memiliki bekal teori dan pemikiran kefilsafatan yang cukup.  Sebagai seorang leader yang menjadi penanggung jawab untuk tim beserta anggota-anggota di dalamnya, penting untuk memahami, memaknai, dan menafsirkan beragam perilaku individu beserta  karakter pribadinya,  dengan  berbagai latar belakang sosial budaya, yang  setiap  hari dihadapkan pada masalah kerja yang menuntuk untuk diberikan solusi.  Di sini saya beruntung sudah mempelajari fenomenologi, hermeneutik dan beragam teori sosial.

Salah satu kunci menyelesaikan masalah dalam tim adalah dengan memandang masalah dari sisi tersangka sehingga tercipta pemahaman yang baik dan ditemukan solusi yang objektif.  Setelah solusi ditemukan, selalu sediakan plan B untuk mengantisipasi timbulnya permasalahan baru. Dalam persaingan dunia kerja yang cukup ketat, akan timbul banyak masalah baik dari internal maupun eksternal. Penyusunan strategi untuk membawa tim terus stabil dan memberikan kontribusi maksimal adalah bentuk semangat dan motivasi kerja.

Semangat dan motivasi kerja ini menjadi sesuatu yang penting bagi kalangan profesional, sebagaimana Alfred North Whitehead, dalam Filsafat Proses mengatakan bahwa segala sesuatu selalu menjadi. Pengertian ‘proses’.  Ini mengandung makna adanya perubahan berdasarkan mengalirnya waktu dan kegiatan yang saling berkaitan. Realitas dunia kerja, adalah bagian dari realitas kehidupan yang menurut Whitehead  dipahami bukan sebagai sesuatu yang statis melainkan terus bergerak dan berubah dalam suatu dinamika pergerakan yang berkelanjutan. Karenanya selalu diperlukan  up to date  setiap saat, dan perkembangan  global harus digunakan sebagai pertimbangan wawasan baru untuk menyusun strategi baru.

Menyusun strategi perlu disertai sikap skeptik, meragukan beragam hal  dalam langkah yang akan diambil. Tentunya skeptik yang dimaksud di sini adalah skeptisisme metodis, sebagaimana diungkapkan oleh Filsuf Rene Descartes, untuk memulai dari keragu-raguan untuk mendapatkan  tujuan akhirnya kepastian yang tak tergoyahkan. Ini disebabkan ada banyak kemungkinan yang muncul dalam setiap langkah yang akan dipilih, sehingga penting bahwa ketika sudah menetapkan pilihan dan keputusan, maka itu adalah keputusan terbaik yang akan dilaksanakan di lapangan.

Sebagai leader dari sebuah tim kerja di perusahaan, saya juga memahami bahwa dalam proses kerja, individu manusia adalah individu yang bebas. Namun sebagaimana diungkapkan tokoh eksistensialisme Jean Paul Sartre, kebebasan yang dimiliki individu  selalu terbatasi dengan fakta akan adanya kebebasan individu lain. Manusia adalah bebas untuk melakukan dan mendefinisikan dirinya sendiri secara individual,  ia berada dalam proses menjadikan dirinya sendiri yang  otonom dan sekaligus menyadari adanya orang lain,  sehingga ia dapat menciptakan dunianya sendiri yang berarti bagi dirinya dan bagi kehidupan orang lain atau lingkungannya. Ini adalah tantangan untuk saya, perusahaan memiliki visi dan misi serta target, tim adalah sekumpulan individu yang otonom, lalu bagaimana ini kemudian menjadi sinergitas yang menguntungkan bagi keduanya.

Dengan banyaknya tuntutan dan target yang harus terpenuhi, ditambah dengan persaingan dari seluruh tim dalam sebuah perusahaan, tidak menutup kemungkinan menciptakan tekanan yang tinggi untuk seluruh anggota tim. Tingginya tingkat stress yang berkemungkinan besar timbul juga akan diantisipasi dengan menciptakan ketenangan spiritualitas kerja. Meluangkan waktu untuk beribadah berjamaah bersama, makan bersama saat istirahat tanpa membahas pekerjaan, dan tidak jarang membuat event bersama tim diluar jam kerja merupakan cara paling umum yang akan dilakukan untuk mempererat kekompakan dan rasa saling memiliki satu sama lain.

Di sini kemudian saya menoleh lagi pada apa yang sudah saya pelajari di Magister AFI, di mana saya mendapat pencerahan dalam kajian Tasawuf, penting bagi kita untuk menanamkan nilai Tauhid, dalam kehidupan riil, termasuk dalam  kehidupan kerja. Nilai-nilai Tauhid sebagaimana diaktualisasikan oleh para Sufi adalah melalui  sikap  untuk selalu berpasrah, tawakal, qonaah, istiqomah adalah benteng spiritual yang penting untuk menghadapi dunia kerja yang dinamis dan progresif. Disertai etika yang banyak dikonsepkan oleh para filsuf muslim, kita bisa memasuki dunia kerja yang mungkin “melelahkan” secara fisik, tapi menenangkan secara secara psikhis, karena kita memiliki dunia spiritualitas Islam yang menyeimbangkan.