UINSA Column

Hari Pahlawan Sebagai Momentum untuk Bergerak Mencegah Terjadinya Krisis Iklim : Sebuah Upaya Edukasi Iklim dan Terciptanya Greenpreneur di Indonesia

Hari Pahlawan Sebagai Momentum untuk Bergerak Mencegah Terjadinya Krisis Iklim : Sebuah Upaya Edukasi Iklim dan Terciptanya Greenpreneur di Indonesia

Hari pahlawan menjadi momentum besar untuk mengenang perjuangan di masa lalu sekaligus pengingat bagi setiap rakyat Indonesia agar senantiasa membaca persoalan-persoalan bangsa yang sedang dihadapi dan memberikan solusinya. Persoalan krisis iklim adalah salah satunya. Krisis iklim berbicara tentang perubahan suhu bumi yang ekstrim sehingga menyebabkan bencana alam seperti banjir, longsor, gempa bumi, kekeringan, hingga kebakaran hutan. Bencana alam yang semakin hari sering kita temui saat ini, faktanya tidak ditentukan oleh letak geografis sebuah tempat melainkan semua tempat dimuka bumi ini memiliki kemungkinan besar untuk dilanda bencana alam seiring dengan terjadinya kerusakan alam. Di Indonesia sendiri, wilayah-wilayah yang sebelumnya jarang bahkan tidak pernah dilanda bencana juga memperoleh dampaknya. Prediksi menjukkan di tahun 2050 diperkirakan kota-kota besar di dunia akan tenggelam termasuk Jakarta.

Lebih-lebih, dampak yang ditimbulkan oleh krisis iklim mencakup segala aspek kehidupan. Data-data saintifik dan berbagai penelitian juga memprediksi terjadinya ketidakstabilan dunia akibat krisis iklim di tahun 2050, diantaranya terjadi konflik perebutan wilayah, tingkat kelaparan yang sangat tinggi, hingga wabah pandemi yang lebih besar dan menakutkan dibanding covid-19 akibat bencana alam dan perpindahan populasi yang tidak terkendali karena menyempitnya lahan yang bisa ditinggali.

Maka, apakah sebagai orang yang hidup saat ini kita merasa tega untuk mewariskan kehidupan yang rusak bagi anak cucu kita di masa depan? Sedangkan di masa lalu, para pahlawan berjuang untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi kita semua.

Pemerintah Indonesia di mata internasional memang telah banyak berpartisipasi dalam berbagai forum iklim dunia. Di dalam forum-forum tersebut terbentuk kesepakatan agar masing-masing negara menurunkan emisi karbon. Sehingga dari sini negara harus membuat kebijakan agar tujuan tersebut dapat tercapai. Disamping itu dibutuhkan pula peran aktif dari masyarakat Indonesia dari hulu hingga ke hilir dimanapun berada.

Menariknya, krisis iklim tidak banyak dipahami oleh masyarakat lokal Indonesia, khususnya daerah pedesaan. Terlebih, hal tersebut dikarenakan minimnya edukasi iklim kepada masyarakat. Selama ini informasi tentang krisis iklim lebih banyak kita dapatkan melalui platform-platform media sosial seperti youtube, instagram, dan facebook. Sedangkan topik-topik demikian jarang dan sulit kita temukan melalui media-media yang lebih mudah dijangkau oleh masyarakat desa seperti televisi, radio dan forum desa.

Sebanarnya, program SDGs (Sustainable Development Goals) Desa dapat menjadi angin segar bagi salah satu upaya mensosialisasikan bahaya krisis iklim. Pasalnya, SDGs desa adalah bentuk dari upaya pembumian SDGs yang di gagas oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) yang memuat sebuah cita-cita dunia yang dibuat tahun 2015 untuk mencapai dunia yang berkelanjutan, dimana krisis iklim menjadi salah satu poinnya. Namun adanya program ini pun, aspek krisis iklim menjadi poin yang sangat minim bahkan tidak ada sama sekali untuk diperkenalkan kepada masyarakat secara luas.

Untuk menjangkau peran aktif masyarakat dalam menyelesaikan persoalan kriris iklim maka masyarakat harus diberikan pengetahuan dan sarana untuk berpartisipasi. Strategi edukasi ikim dapat dimulai dengan membuat program pertemuan yang melibatkan berbagai elemen terutama pemuda, pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat dan masyarakat itu sendiri. Pemuda dapat bertindak sebagai inisiator dan penggerak. Peran dari pemerintah desa bisa memberikan sarana dalam pembuatan program. Sedangkan tokoh agama dan tokoh masyarakat berperan dalam memberikan ceramah atau bimbingan melalui pendekatan budaya dan keagamaan kepada masyarakat tentang beberapa materi terkait, diantaranya penyebab, bahaya, dan solusi yang dapat dilakukan untuk mencega krisis iklim terjadi.  

Selanjutnya, edukasi ini tidak hanya berhenti pada tahap pengetahuan saja melainkan harus terdapat program yang bersifat berkelanjutan. Program ini dapat diwujudkan dengan cara mendorong terciptanya greenpreneur, yakni sebuah istilah bagi pengusaha yang tidak hanya bergerak pada keuntungan ekonomi semata melainkan juga kebaikan untuk bumi. Strategi mencetak greenpreneur ini harus difasilitasi oleh semua kalangan dalam membantu masyarakat untuk membaca peluang ekonomi hijau yang bisa dikembangkan. Diantaranya : recycle dan upcycle sampah, pengeloaan kotoran hewan ternak menjadi kompos, pembuatan sabun alami, hingga pengelolaan sampah rumah tangga.

Dengan begitu, adanya edukasi iklim dan terciptanya greenpreneur akan memperkuat upaya pencegahan krisis iklim di Indonesia sekaligus bisa berdampak pada perekonomian masyarakat.

Oleh: Eva Putriya Hasanah