UINSA Column

Revolusi Mental Membangun Jiwa Nasionalisme di Era Millenial: Jangan Jadi Budak di Negeri Sendiri, Ayo Bangkit Lanjutkan Cita-Cita Pahlawan NKRI !

Revolusi Mental Membangun Jiwa Nasionalisme di Era Millenial: Jangan Jadi Budak di Negeri Sendiri, Ayo Bangkit Lanjutkan Cita-Cita Pahlawan NKRI !

           17 Agustus 1945 merupakan hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Kemerdekaan tidak akan dapat diraih tanpa perjuangan para pahlawan. Perjuangan para pahlawan dalam melawan penjajah tidak dilakukan dengan mudah melainkan dengan tetesan air mata bersimbah darah yang menyelimutinya. Perjuangan para pahlawan dalam mengusir penjajah dari tanah air membutuhkan waktu yang tidak singkat. Tentunya betapa beratnya perjuangan para pahlawan kemerdekaan tidak bisa digambarkan dengan apapun. Para pahlawan perjuangan kemerdekaan rela mengobarkan nyawanya demi mempertahankan wilayah Indonesia. Adapun contohnya seperti perjuangan Bung Tomo dalam melawan sekutu. Pahlawan nasional satu ini juga dikenal memiliki semangat yang berapi-api dalam melakukan orasi. Orasi yang dilakukan untuk mengeluarkan semangat para rakyat dalam melawan penjajah Bung Tomo juga melakukan orasinya melalui saluran radio. Selanjutnya adalah Ki Hajar Dewantara yang terkenal dengan tut wuri handayani beliau salah satu pahlawan yang memperjuangkan pendidikan di Indonesia. K.H Dewantara mendirikan taman siswa yang digunakan untuk menciptakan rasa nasionalisme pada masyarakat Indonesia. Selanjutnya adalah Soekarno yang merupakan sang proklamator kemerdekaan RI. Presiden pertama RI ini mampu menjadikan Indonesia sebagai satu kesatuan yakni kesatuan nusantara. Ada juga pahlawan yang mungkin tidak asing yaitu Pattimura yang berjuang bersama rakyat Maluku dalam mengusir para VOC. Selanjutnya ada Tuanku Imam Bonjol yang berjuang dalam perang padri di Sumatra Barat. Pahlawan perempuan seperti R. A Kartini yang memperjuangkan pendidikan dan hak-hak kesetaraan bagi kaum perempuan beliau juga membangun sekolah untuk kaum perempuan. Selanjutnya adalah Jenderal Soedirman yang berjuang dalam agresi militer II dan masih banyak lagi kisah perjuangan para pahlawan NKRI yang sangat luar biasa dalam semangatnya mengusir penjajah.

               Perjuangan para pahlawan Indonesia tidak seharusnya menjadi sebuah kisah yang lantas hanya diceritakan saja pada generasi penerusnya. Perjuangan para pahlawan Indonesia bukan sekedar peringatan hari-hari dan tanggal tertentu saja. Perjuangan para pahlawan Indonesia tak hanya di lambangkan dengan pembangunan tugu ataupun monumen saja. Namun yang menjadi garis besarnya adalah perjuangan para pahlawan Indonesia harus dilanjutkan oleh generasi penerusnya. Melihat bahwasannya generasi penerus di era abad 20-an seperti saat ini sangat memprihatinkan banyak dari mereka yang mengadu domba satu sama lain sehingga mengancam persatuan bangsa, banyak dari mereka mengalami krisis moral, tak sedikit generasi penerus bangsa yang justru lebih menyukai budaya luar ketimbang budaya bangsanya sendiri, banyak pula dari mereka yang mudah terpengaruh sehingga mudah untuk terprovokasi, banyak dari mereka yang menjadi budak para kaum kapitalis, banyak dari generasi penerus bangsa yang mengikuti aliran radikalisme, dan banyak pula generasi penerus bangsa yang tidak mampu menciptakan nasionalisme dalam dirinya sendiri. Tentu hal seperti ini menjadi tantangan tersendiri dand diperlukan solusi agar tidak mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Nampaknya perlu dilakukan revolusi mental dalam menumbuhkan rasa nasionalisme di era milenial agar generasi penerus bangsa tidak menjadi budak di negeri sendiri dan jauh lebih besar harapan generasi penerus bangsa dapat melanjutkan cita-cita para pahlawan Indonesia mengingat bahwsannya perjuang masih belum berakhir dan masih harus dilanjutkan.

 

PEMBAHASAN

          Revolusi mental merupakan salah satu jalan keluar dalam membawa generasi penerus bangsa untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya. Revolusi mental sendiri memiliki makna yakni perubahan yang dilakukan pada segenap khususnya generasi penerus bangsa dalam mengubah cara berpikir, bersikap, dan pandangan yang disesuaikan dengan kondisi yang terjadi di masyarakat dalam tanda kutip perubahan yang dilakukan mengarah pada prinsip pancasilais, demokratisasi, dan UUD 1945. Revolusi mental juga memiliki makna perubahan untuk mengubah segala hal buruk yang ada dalam diri penerus bangsa dengan memasukkan segala nilai-nilai positif. Revolusi mental perlu digalakkan dalam diri setiap penerus generasi bangsa. Revolusi mental bertujuan agar generasi bangsa dapat menata mentalnya dalam menghadapi segala tantangan dunia internasional sehingga dapat mempertahankan keeksistensian. Tujuan dari revolusi mental adalah mengarahkan generasi penerus bangsa agar berorientasi pada nilai nasionalisme, integrasi, gotong royong, etos kerja, toleransi, patriotisme sehingga mental yang diharapkan terbentuk seperti baja yang mampu melindungi bangsa dan negeri dari segala hantaman yang menghadang. Apabila tindakan revolusi mental dilakukan secara menyeluruh maka akan membawa perubahan tersendiri dalam kehidupan masyarakat tentunya menuju kepada perubahan yang jauh lebih baik. Dengan adanya revolusi mental kita dapat beradaptasi dan menyesuaikan kondisi sehingga kita dapat diterima keberadaannya oleh seluruh penjuru dunia. Perubahan akan terus terjadi dan waktu tidak pernah menunggu kita untuk berubah untuk itulah bagaimana cara kita dapat merubah sesuatu untuk menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Revolusi mental dapat dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila khususnya nasionalisme. Nasionalisme merupakan rasa cinta terhadap bangsa Indonesia. Nasionalisme jug dimaknai sebagai paham yang mengajarkan kecintaan terhadap bangsanya sendiri yakni bangsa Indonesia. Nasionalisme memang menjunjung tinggi bangsa sendiri tetapi dengan tidak memandang rendah bangsa lain. Nasionalisme tidak hanya menjunjung tinggi rasa cinta terhadap bangsanya namun juga rasa untuk senantiasa mempertahankan bangsanya baik mempertahankan kehormatan bangsa ataupun semangat cintah tanah air, menjaga keutuhan kesatuan dan persatuan bangsa, serta meningkatkan martabat bangsa Indonesia di hadapan bangsa-bangsa lainnya. Oleh karena itu, sikap nasionalisme sangat penting perannya dalam menjaga keutuhan Negara Republik Kesatuan Indonesia (NKRI). Mengingat pentinganya nasionalisme ini harus dimiliki oleh segenap para penerus bangsa.

         Dengan nasionalisme para penerus bangsa dapat mencintai bangsanya sendiri sehingga akan selalu mengutamakan segala kepentingan yang berkaitan dengan kemaslahatan umat bersama, dengan nasionalisme para penerus generasi bangsa tidak mudah untuk mencintai budaya luar nasionalisme akan mengantarkan para generasi penerus bangsa untuk senantiasa mempertahankan budaya bangsanya. Dengan nasionalisme para generasi penerus bangsa akan lebih mudah dalam menjaga kehormatan negara sehingga mereka akan menunjukkan tingkah laku yang baik-baik demi menjaga nama baik bangsa Indonesia. Nasionalisme dapat membawa generasi penerus bangsa untuk menjadi tameng negaranya dalam menghadapi setiap ancaman dan tantangan. Nasionalisme yang tumbuh dalam diri segenap generasi penerus bangsa akan membawa mereka pada nilai-nilai yang menjunjung tinggi kebersamaan, toleransi, gotong-royong, dan rasa saling memiliki. Pentingnya nasionalisme ini harus diterapkan pada generasi millennial seperti saat ini. Generasi millennial merupakan generasi yang keberadaanya didukung oleh kecanggihan teknologi yanf semakin mutakhir dan globalisasi yang memudarkan batas-batas negara. Generasi milenial juga disebut dengan generasi Y yakni generasi yang lahir sekitar tahun 1980-an. Generasi millennial sangat sensitif sehingga mereka mudah dipengaruhi dan mudah menjadi bahan adu domba atau provokasi. Ciri mendasar yang ada pada generasi millennial adalah mereka mudah bosan dan cenderung ingin selalu mengubah apa yang ada, generasi milenial tidak akan bisa hidup tanpa gadget karena generasi millennial kehadirannya didukung oleh perkembangan teknologi sehingga kehidupannya pun sulit dipisahkan dari yang namanya handphone atau smartphone, generasi millennial sangat menyukai sesuatu yang serba instan, generasi millennial juga sangat aktif, kreatif, dan inovatif, serta generasi milenial lebih terbuka dengan sesuatu yang baru. Generasi millennial juga dimaknai sebagai generasi yang melek dengan sosial media atau generasi yang sangat bergantung pada internet. Tentu segala sesuatu pasti mempunyai dampak positif dan negatif tersendiri. Yang menjadi permasalahan dan sebuah pertanyaan dan permasalahan adalah apakah generasi milenial di era sekarang seperti saat ini sudahkah mereka menunjukkan kontribusi yang positif bagi bangsanya sendiri ? Ataukah mereka sudah terlena dengan segala kemudahan yang diberikan teknologi sehingga kebebasan yang diberikan disalahgunakan ? Melihat kondisi riilnya generasi milenial saat ini cenderung mudah terlena dengan segala kemudahan yang diberikan teknologi disamping itu keberadaan globalisasi juga semakin membuat dirinya lebih menyukai sesuatu yang berkaitan dengan budaya luar. Hal ini membuat sebagian besar generasi millennial menjadi budak dinegeri sendiri. Masyarakat baik itu generasi milenial ataupun penerus bangsa di era sekarang sebagian besar dari mereka tidak menyadari bahwa dirinya telah disetir oleh para kapitalisme dalam tindakan gaya hidup dan cara berpikirnya. Para kapitalisme menggunakan iklan yang mana memiliki powerfull atau kekuatan dalam memberikan pengaruhnya terhadap masyarakat. Para kapitalisme ini menginginkan agar segala produk yang mereka miliki dapat dibeli oleh masyarakat. Sehingga secara tidak sadar manusia telah menjadi budak para kaum kapitalisme. Oleh karena itu, banyak penerus generasi yang memiliki sikap konsumtif.

           Kebutuhan palsu sengaja diciptakan untuk memicu hasrat manusia melalui penyebaran media massa maupun media sosial yang ditawarkan melalui iklan. Adanya iklan tersebut masyarakat dikontrol termasuk cara berpikirnya oleh para pemilik modal tersebut. Hal ini lah yang menjadi dasar akan tumbuhnya sikap konsumtif pada masyarakat modern diera globalisasi. Kemajuan semua yang dialami masyarakat modern saat ini harus dirombak karena kemajuan tersebut disisipkan berbagai macam kebutuhan palsu. Masyarakat harus bersikap kritis agar tidak mudah tergoda dengan segala godaan palsu yang masuk pada kesadaran manusia. Sehingga untuk menghindari ataupun meminimalisir sikap konsumtif di era globalisasi pada masyarakat modern atau millennial adalah dengan meningkat kesadaran manusia untuk berfikir kritis agar dirinya mampu konsisten dan tidak mudah dipengaruhi dengan segala kebutuhan palsu yang dianggap dapat memuaskan hasrat manusia. Tidak hanya dalam jaring-jaring kapitalisme tetapi juga berkaitan dengan krisis moral yang dialami penerus generasi bangsa dalam era milenial seperti saat ini. Krisis moral adalah fase dimana nilai-nilai adab, kesopanan, dan segala nilai yang dianggap baik telah luntur pada diri masyarakat. Permasalahan krisis moral ini banyak dihadapi oleh generasi muda. Adanya globalisasi akibat kecanggihan teknologi membuat generasi penerus bangsa terpengaruh dengan hal buruk yang masuk kedalam bangsa ini. Sebagaimana realitanya banyak generasi muda yang ikut tersandung dalam kasus prostitusi online, narkoba, jual beli organ manusia, korupsi, game online, judi, tidak dapat bertingkah laku sesuai dengan nilai, tata krama, adab, dan kesopanan yang berlaku. Sehingga hal ini membuat kehormatan dan martabat bangsa Indonesia menurun. Tidak hanya krisis moral saja generasi milenial sebagai penerus bangsa juga sangat mudah dipengaruhi sebagian dari mereka tidak sedikit ditemukan ikut dalam sindikat radikalisme yang berujung pada terorisme mereka kurang bisa memfilter segala apa yang mereka lihat melalui internet. Hal iji menunjukkan bahwa masyarakat telah menjadi budak dinegeri sendiri sebab mereka dijadikan sebagai alat adu domba bangsa lain dalam menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa. Selain itu, pemuda saat ini lebih banyak rebahan dari pada melakukan aksi yang heroik, mereka lebih banyak menonton dari pada menjadi kreator. Artinya generasi penerus bangsa saat ini lebih pasif dalam melakukan gerak yang membawa perubahan baik pada dirinya ataupun bangsanya. Menjadi budak dinegeri sendiri juga terlihat dari banyaknya masyarakat yang menjadi karyawan sedangkan yang menjadi bosnya adalah mereka yang berasal dari negara lain. Artinya masyarakat Indonesia kekurangan sumber daya yang berkualitas dalam mengelola segala kekayaan alam yang dimilikinya. Dalam mengembangkan potensi alam masyarakat Indonesia masih bergantung dengan para investor asing. Sehingga yang menjadi topik permasalahan adalah bagaimana caranya agar bangsa Indonesia tidak menumpuk utang luar negeri atau terhadap dana asing. Dengan meningkatkan potensi sumber daya yang dimiliki BUMN akan mengurangi ketergantungan terhadap dana asing sehingga secara tidak langsung hal ini akan menaikkan pajak dan dividen BUMN terhadap penerimaan negara. Tidak hanya itu saja, pemuda saat ini lebih mengedepankan kepentingan pribadinya sehingga cenderung menduakan kepentingan bersama atau negara alhasil tingkah laku yang seperti ini meningkatkan sikap individualistik ditengah-tengah masyarakat.

              Sudah saatnya seluruh masyarakat Indonesia berhenti menjadi budak dinegeri sendiri. Masyarakat Indonesia tidak seharusnya menjadi budak di tanah air ini. Revolusi mental perlu dilakukan dengan cara menanamkan nilai nasionalisme di era milenial. Yakni dengan cara mengajak para generasi millennial melakukan aksi positif yang berkaitan dengan kepentingan bangsa dan negara seperti melakukan bakti sosial pada lingkungan setempat, menjadi relawan untuk menolong korban bencana alam, melakukan sosialisasi untuk mengajarkan nilai nasionalisme pada segenap masyarakat dapat melalui dengan menonton film perjuangan para pahlawan, membuat konten media sosial yang berisi aksi nasionalisme seperti peka terhadap ancaman yakni dengan peduli terhadap lingkungan dan memperkenalkan kekayaan budaya bangsa melalui media sosial, mengajarkan pendidikan karakter, senantiasa mengajak masyarakat untuk selalu menggunakan produk dalam negeri, dan senantiasa melestarikan budaya lokal yang hampir pudar. Dengan adanya nasionalisme ini akan mengantarkan generasi penerus bangsa di era milenial untuk lebih mudah dalam menghadapi segala tantangan yang ada. Gerakan revolusi mental perlu dilakukan agar penerus bangsa dapat melanjutkan perjuangan para pahlawan di yang disesuaikan di era saat ini. Mengingat beberapa tahun yang lalu Ir. Soekarno pernah berpidato dan mengatakan bahwa " Perjuanganku Lebih Mudah Karena Mengusir Penjajah tapi Perjuanganmu Lebih Sulit Karena Melawan Bangsamu Sendiri" dari sini terdapat makna yang begitu mendalam bahwasannya yang mengancamkan persatuan dan kesatuan NKRI bukan lagi para penjajah namun rakyat sendiri yakni rakyat yang tidak memiliki sikap toleransi, rakyat yang suka mengadu domba, rakyat yang selalu menentang pemerintahan, rakyat yang menjadi budak dinegeri sendiri, rakyat yang apatis, rakyat yang tidak memiliki rasa nasionalisme. Garis besarnya Indonesia sudah melawan penjajah tetapi Indonesia dalam permasalahannya selalu dihadapkan dengan persatuan rakyat di tengah segala perbedaan yang ada. Dalam bangsa ini terdapat agama islam, agama hindu, agama kristen, agama china, agama budha. Pesan yang pernah disampaikan Ir. Soekarno adalah jika kita menjadi orang islam jangan menjadi orang arab, jika kita menjadi orang hindu jangan menjadi orang india, jika kita menjadi orang kristen jangan menjadi orang yahudi. Artinya adalah diantara perbedaan yang ada tetaplah menjadi satu yakni satu nusantara satu pancasila karena ini adalah tanah air pancasila. Sudah saatnya seluruh masyarakat Indonesia berhenti menjadi budak dinegeri sendiri. Masyarakat Indonesia tidak seharusnya menjadi budak di tanah air ini. Masyarakat Indonesia adalah tuan rumah tak seharusnya mendapatkan posisi rendah yang sedemikian rupanya. Oleh karena itu, khususnya generasi muda penerus bangsa ayo bangkitlah dari tidurmu, sudahi rebahanmu, bumi pertiwi memanggilmu untuk menyelamatkan rakyatmu yang menjadi budak dinegerimu sendiri. Banyak generasi muda saat ini yang ditanya bagaimana perjuangan para pahlawan dalan mendapatkan kemerdekaanya mereka pun kurang mengetahui bagaimana sejarah perjuangan kemerdekaan RI.

            Mereka cenderung tidak peduli dengan perjuangan para pahlawan dan hanya menjadikan hal tersebut sebagai kisah. Banyaknya museum-museum, tugu, dan monumen yang sebagian besar hanya dijadikan sebagai tempat wisata tetapi keberadaannya tidak dimaknai dengan arti perjuangan dan makna yang terkandung dalam tugu, monumen, ataupun museum yang lantas nilai-nilai yang terkandung di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedemikian rupanya mirisnya museum lebih sepi peminatnya ketimbang keberadaan mall yang menjadi tempat tujuan utama kebanyakan para generasi muda. Bukan begitukah realitanya ? Ya menang benar seperti itu. Artinya kepekaan dan kepedulian terhadap situs-situs bersejarah dan peninggalan para pahlawan kurang diperhatikan oleh sebagian masyarakatnya. Kalaupun ada hanya sebagai bentuk dari perintah oleh pemerintahan bukan sebagai bentuk yang ada karena rasa cintanya yang timbul dalam sanubari hatinya akan perjuangan para pahlawan. Generasi milenial adalah generasi yang aktif, inovatif, dan kreatif sudah saatnya generasi milenial tidak terlena dengan kemudahan teknologi yang ada melainkan generasi millennial diharapkan dapat melanjutkan cita-cita perjuangan para pahlawan kemerdekaan. Mengetahui bahwasannya perjuangan para pahlawan belum berakhir kita sebagai penerus bangsa masih memiliki tugas untuk senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan, mempertahankan kemerdekaan sampai titik darah penghabisan, dan mempertahankan apa yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan. Melanjutkan cita-cita pahlawan adalah sebuah tindakan yang mulia sebuah jihad yang dilakukan atas nama bangsa dan negara. Memanfaatkan media massa maupun sosial untuk menyebarkan konten-konten yang positif yakni konten yang diisi dengan nilai-nilai nasionalisme. Ataupun podcast yang mengandung pidato agar masyarakat tidak terlena dengan kecanggihan teknologi, masyarakat perlu menyadari agar dirinya turut berperan dalam menjaga segala keutuhan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, membuat konten yang berisi tentang pentingnya toleransi dan bahaya radikalisme. Selalu menjunjung tinggi pentingnya pendidikan untuk menciptakan manusia yang berkualitas dan beradab sehingga dapat menjadi generasi penerus bangsa yang baik.

 

PENUTUP

              Dari pemaparan yang telah diuraikan diatas maksud dan tujuan yang ingin disampaikan adalah melihat kondisi Indonesia saat ini yang generasi penerusnya telah menjadi budak di negeri sendiri hal ini ditunjukkan dari tindakan yang dilakukan mereka secara sukarela menjadi budak bagi para kapitalisme yang dibohongi dengan kebutuhan palsu, krisis moral akibat globalisasi dan kecanggihan teknologi yang disalahgunakan, generasi penerus saat ini sangat sensitif sehingga mereka kerap dijadikan bahan adu domba untuk mengancam persatuan dan kesatuan di masyarakat, paham radikalisme dan terorisme masih saja ditemukan, generasi penerus saat ini lebih banyak menjadi penonton dari pada menjadi kreator mereka lebih banyak rebahan dari pada melakukan aksi yang membawa dampak positif bagi kemaslahatan banyak umat, generasi saat ini kurang menyadari sejarah perjuangan bangsa Indonesia sebagian diantara mereka tidak mengetahui sejarah bangsanya sendiri, mereka juga cenderung lebih menyukai budaya luar ketimbang melestarikan budaya lokal bansa Indonesia. Generasi saat ini sudah terlena dengan kemudahan teknologi sehingga menyukai sesuatu yang serba instan dan mengakibatkan melemahnya semangat etos kerja dalam diri generasi milenial atau generasi penerus bangsa. Tentu hal semacam ini harus segera diselesaikan jika tidak akan menjadi ancaman bagi keutuhan NKRI. Yakni dengan melakukan gerakan revolusi mental yakni gerakan perubahan baik pada cara berfikir, bertindak, dan memandang yang disesuaikan dengan kondisi yang terjadi serta berpedoman pada nilai-nilai pancasila. Revolusi mental dapat dilakukan dengan cara menanamkan rasa nasionalisme dalam diri generasi penerus pada era milenial. Melihat era millinneal lebih senstif dalam menghadapi berbagai isu-isu yang ada oleh karena itu, perlu diterapkan rasa nasionalisme yakni rasa cinta dan bangga terhadap negara Indonesia, senantiasa mempertahankan harkat dan martabat bangsa, serta menjaga kehormatan dan kesatuan ataupun persatuan bangsa Indonesia.

            Masyarakat Indonesia harus dikeluarkan dari segala sesuatu yang menyetir masyarakat untuk menjadi apa yang mereka mau. Masyarakat Indonesia adalah tuan rumah tidak seharusnya menjadi budak dinegeri sendiri. Negara Indonesia seharusnya tidak selalu berharap pada negara luar dalam mengelola segala potensi dan kekayaan yang dimiliki Indonesia. Pendidikan perlu diutamakan dalam membentuk sumber daya manusia yang mampu bersaing dalam kancah internasional. Generasi penerus bangsa harus bangkit dan bergerak dalam mewujudkan dan melanjutkan cita-cita perjuangan pahlawan. Apa yang telah diperjuangkan harus dipertahankan. Generasi penerus bangsa harus menjadi aktor utama dalam melanjutkan perjuangan para pahlawan yakni dengan melibatkan generasi penerus bangsa di era milenial dalam setiap gerakan kebangsaaan. Ayo generasi penerus bangsa generasi millennial tunjukkan aksimu dalam melanjutkan perjuangan para pahlawan manfaatkanlah kecanggihan teknologi dalam membuat konten positif konten yang menjunjung tinggi nilai nasionalisme, konten yang berisi budaya bangsa, dan konten yang selalu mengajak masyarakat untuk bangga dan senantiasa berusaha menjaga nama baik bangsanya. Aku, kamu, dan kita adalah generasi penerus bangsa yang mampu tuk melanjutkan perjuangan para pahlawan, menjaga kesatuan dan persatuan, menjunjung tinggi nilai pancasila, mengutamakan toleransi dan gotong royong, dan menanamkan rasa nasionalisme dalam diri ini. Marilah kita jaga bangsa yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan ini. Bersama kita pasti bisa ini tanah air pancasila ini tanah air rakyat Indonesia. Hanya rakyat Indonesia yang mampu membawa Indonesia untuk menjadi lebih baik. Terima kasih perjuanganmu para pahlawan NKRI, terima kasih atas segala keringat, tangisan, dan tumpah darahmu untuk negeri ini. Akan ku jaga keselamatan dan persatuan bangsa ini sampai akhir hayatku. Salam perjuangan Indonesia bisa Indonesia Maju. MERDEKA !!!

Oleh: Annisa Rizkia Ahmad Rahmatullah