News

PASCASARJANA UINSA GELORAKAN SEMANGAT CINTA TANAH AIR LEWAT IC COME 2019

PASCASARJANA UINSA GELORAKAN SEMANGAT CINTA TANAH AIR LEWAT IC COME 2019

UINSA Newsroom, Rabu (30/10/2019); Dalam upaya menguatkan ilmu pengetahuan serta produktifitas masyarakat yang cenderung antipati dan intoleransi, Pascasarjana UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya secara khusus menggelar, International Conference of Islam, Community Engagement and Modernity (IC COME) 2019. Konferensi internasional ini mengangkat tema, “Islam and knowledge production in Modernity Society.” Kegiatan ini digelar di Ruang Amphiteater Lt. 2 Gedung Twin Towers A UINSA, Rabu, 30 Oktober 2019.

Prof. Dr. H. Aswadi, M.Ag., Direktur Pascasarjana UINSA

Hadir sebagai Keynote Speaker Prof. Syed Farid Al Attas, Ph.D., dari National University of Singapore. Hadir pula dalam sesi panel, Tan Sri Prof. Dr. Nordin Bin Kardi dari University Sultan Azlan Shah, Malaysia dan Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si., Guru Besar UINSA Surabaya.

Prof. Dr. H. Aswadi, M.Ag., Direktur Pascasarjana UINSA dalam sambutan menyampaikan, bahwa kegiatan IC COME 2019 digelar sebagai bentuk keterpanggilan UINSA dalam upaya menggelorakan spirit menumbuhkan Nilai Islam yang ramah. “Ini menjadi agenda penting pengembangan produktifitas Umat Islam di era modern saat ini,” ujar Prof. Aswadi.

Rektor UINSA, Prof. H. Masdar Hilmy, S.Ag., MA., Ph.D.

Prof. Aswadi juga menegaskan, bahwa IC COME 2019 juga diharapkan menjadi ajang terkoneksinya berbagai lembaga di Indonesia dengan dunia. Sehingga akan lahir kritalisasi pemikiran-pemikiran untuk pengembangan Indonesia dan lainnya. Khususnya bagi generasi milenial di era industri 4.0, lanjut Prof. Aswadi, yang memiliki peran besar dalam menentukan masa depan bangsa.

“Di ujung jari jemarinya masa depan Indonesia dipertaruhkan. InsyaAllah melalui kegiatan ini, tidak hanya lahir pemikiran tapi juga karya nyata dari pemikiran yang positif, agar menjadi bangsa yang maju dan berkemajuan,” tukas Prof. Aswadi.

Prof. Syed Farid Al Attas, Ph.D., dari National University of Singapore.

Senada dengan itu, Rektor UINSA, Prof. H. Masdar Hilmy, S.Ag., MA., Ph.D., juga hadir dan memberikan prakata sambutan. Rektor yang juga Guru Besar UINSA Bidang Sosiologi-Politik ini menegaskan, bahwa kegiatan ini diharapkan dapat memunculkan karya nyata dari pemikiran yang dinamis tentang Keislaman di Indonesia dan dunia.

Seiring dengan perkembangan teknologi, menurut Rektor, Umat Islam di dunia tidak lagi mengakses informasi dengan cara lama, tapi sudah beralih pada era internet. Segala yang dibutuhkan, dapat diakses dengan mudah hanya dari kamar. Hal ini pun membawa dampak pada cara pandang umat. Sehingga konferensi internasional ini diharapkan dapat memberi manfaat sharing information and knowledge antar peserta yang berasal dari berbagai unsur dan negara. “So, we appreciate to all to come this conference,” ujar Prof. Masdar memungkasi sambutan.

Tan Sri Prof. Dr. Nordin Bin Kardi dari University Sultan Azlan Shah, Malaysia

Sementara itu, Prof. Syed dalam paparan mengenai dikotomi keilmuan menjelaskan tentang pemikiran orientalis yang cenderung menegaskan kesan, bahwa Dunia Barat itu berkebudayaan maju dan rasional. “Sementara Dunia Timur (dianggap, red) mundur dan tidak rasional,” tegas Prof. Syed.

Pemikiran ini juga menyebabkan ketimpangan, dimana masyarakat dari Dunia Timur hanya menjadi objek dari penelitian Dunia Barat yang seringkali tidak sesuai dengan local wisdom. Dalam berbagai kajian keilmuan, menurut Prof. Syed, kita (peneliti dari Dunia Timur, red) hanya berpijakan pada kajian keilmuan yang dihasilkan peneliti dari Barat. “Dalam berbagai kajian, seringkali kita sendiri tidak menguasai bidang ilmu tersebut,” imbuh Prof. Syed.

Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si., Guru Besar UINSA Surabaya.

Sesuatu yang disebut Prof. Syed sebagai bentuk ‘ketergantungan intelektual’ tersebut harus diatasi dengan memulai kajian dengan definisi yang diciptakan sendiri sesuai keadaan di lapangan (local wisdom). “Kita tidak seharusnya hanya menterjemahkan bahasa, tapi lebih serius pada konsep apa bahasa digunakan,” jelas Prof. Syed. Hal itu, menurut Prof. Syed, selain dapat menciptakan efektifitas juga dapat menjadi upaya screening/filter agar suatu kajian tidak terjebak pada bias tertentu. (Nur/Humas)