News

Faruq Ibnul Haqi Dosen Arsitektur UINSA terpilih menjadi Koordinator PPI Dunia

Faruq Ibnul Haqi Dosen Arsitektur UINSA terpilih menjadi Koordinator PPI Dunia

Terpilih menjadi Koordinator PPI Dunia (Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia) periode 2021-2022, Faruq Ibnul Haqi mengembangkan visi dan misi PPI Dunia sambil berkuliah sebagai kandidat Ph.D dalam Perencanaan Wilayah dan Kota, University of South Australia (UniSA), Adelaide. Peraih beasiswa S2 Australia Awards (AAS) dan Beasiswa 5000 Doktor Kementerian Agama RI ini menempuh pendidikan S1 Arsitektur di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Awalnya ia ingin meneruskan kuliah di luar negeri setelah mengikuti program pertukaran pelajar pada 2007, yang membuatnya berkesempatan belajar di Filipina, tepatnya di Bulacan State University selama satu bulan lebih melalui program Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2007.

Pria kelahiran 4 Maret 1986 ini menuturkan, ia semula ingin meneruskan kuliah ke Jerman. Karena kendala persiapan bahasa, ia pun membelokkan niat untuk mendaftar di kampus dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. "Mau masuk Universitat Hannover karena niatnya mau belajar arsitektur Eropa dan kampusnya lebih tua. Sudah diterima di Dortmund juga, tapi tidak jadi," katanya tertawa.

Faruq menambahkan bahwa kemudian ia memfokuskan diri mengejar beasiswa di Australia (Beasiswa Australia Awards) yang mensyaratkan pelamar sudah bekerja. Hal ini yang membuatnya terdorong untuk bekerja sebagai arsitek dan asisten dosen sebelum melanjutkan studi Magister Perencanaan Wilayah dan Kota di UniSA, Australia (2013-2015) dengan beasiswa. Peneliti doktoral bidang perencanaan wilayah dan kota ini mengatakan, karena sudah bekerja sebelum kuliah S2, ia tidak memilih program pendidikan dengan masa studi singkat. Faruq memilih prodi dengan masa studi lebih lama yang memfasilitasinya belajar sambil mencari pengalaman dan berjejaring.

"Saya semula apply Master of Architecture, sudah dikirimi penawaran kredit 1,5 tahun. Tapi saya maunya 2 tahun, alhasil ganti ke (prodi) Urban Planning. Sebab orientasinya beda, cari pengalaman dan koneksi. Kerjanya sudah ada," jelas dosen tetap Jurusan Arsitektur Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya ini.

Faruq menuturkan, masa studi S2 mengantarkannya untuk mengenal dan aktif di kegiatan PPI Australia (PPIA) Nasional sejak 2013. Bermula dari keaktifannya di Departemen Akademik dan Kajian PPIA Nasional, ia lalu menjadi Presiden PPIA pada 2013-2014. Aktivitasnya di PPI masih berlanjut saat meneruskan studi S3 di kampus yang sama dengan Beasiswa 5000 Doktor Kemenag. Ia mengatakan, agar studi dan kegiatannya di PPI bisa seimbang, terutama dengan beasiswa, ia menerapkan prinsip komitmen dan disiplin yang ditanamkan sejak studi S2. "Tugas utamanya belajar dan studi, namun di satu sisi bisa mengembangkan diri lewat organisasi. Ini juga yang diterapkan anggota PPI lainnya," kata Faruq. "Saat S1 itu jenis beasiswanya juga beasiswa unggulan aktivis. Kualifikasi yang dilihat adalah keseimbangan akademik dan organisasi. Mahasiswa Arsitektur itu super sibuk menggambar, menjaga ritme IPK dengan batas tertentu sambil berorganisasi tingkat universitas. Lalu S2 sambil aktif di organisasi profesional, seperti di di Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi, lalu S3 sambil PPI," jelasnya.

Ketua Program Studi Arsitektur, Kusnul Prianto, MT menyatakan bahwa prodi sangat bangga dengan pencapaian ini, “Prodi Arsitektur sangat bangga memilki Pak Faruq yang telah membawa nama baik prodi Arsitektur maupun UIN Sunan Ampel di dunia internasional dengan terpilihnya beliau sebagai koordinator PPI Dunia. Semoga membawa berkah dan kebaikan bagi kita semuanya khususnya mahasiswa arsitektur UINSA”. Sebagai informasi mantan Presiden RI, alm. Prof. Habibie saja hanya pernah menjadi koordinator PPI disalah satu kota di Jerman. Dengan adanya pencapaian ini diharapkan dapat mengangkat nama baik UIN Sunan Ampel di kancah internasional dan menebarkan semangat, bagi segenap civitas akademika di UIN Sunan Ampel dan khususnya prodi Arsitektur.