News

Hima Prodi Perbandingan Mazhab Semarakkan Maulid Nabi Muhammad SAW

Hima Prodi Perbandingan Mazhab Semarakkan Maulid Nabi Muhammad SAW

Sebagai salah satu bentu rasa cinta kepada baginda Nabi Muhammad SAW, HIMA Prodi perbandingan madzhab menyelenggarakan Peringatan Maulid Nabi dengan tema “Sepenggal Sejarah dan Makna Simtuddurar”. Acara ini dilangsungkan secara virtual pada hari Sabtu, 23 Oktober 2021Pukul 09.00 WIB dengan menghadirkan seorang narasumber yang cukup dikenal oleh masyarakat yakni Habib Musthofa bin Umar Alaydrus yang menjelaskan terkait keutamaan sholawat dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

Menurut penuturan beliau banyak cara seseorang mengekspresikan rasa cintanya kepada baginda Nabi Muhammad SAW baik dengan menjalankan amalan-amalan sunnahnya, memperbanyak membaca shalawat, maupun dengan memujinya lewat qasidah dan syair-syair yang menggambarkan keutamaan Rasulullah Muhammad SAW.

Salah satu bentuk syair pujian yang terkenal dan banyak diamalkan oleh masyarakat Indonesia selain Maulid ad-Dhiba’I, Qasidah Burdah dan Barzanji, yaitu Maulid Simtuddurar, atau sebagian kalangan menyebutnya dengan Maulid al-Habsyi. Kitab Maulid Simtuddurar ini didalamnya berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW, sejarah Nabi, dan doa kepada Allah melalui perantara/wasilah Nabi Muhammad SAW. Nama simtuddurar diambil dari dua kata simtu (سِمْطُ) yang berarti kilauan dan durar (دُرَرٌ مف دُرَّةٌ) yang berarti mutiara, jadi simtuddurar memilki makna kilauan mutiara pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

Kitab maulid Simthud Durar ini dibawa dan dipopulerkan di Nusantara oleh keturunan habib Ali dan murid-murid beliau. Untuk dari jalur murid, yang pertama kali membawa Simthud Durar ke Indonesia adalah Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi (wafat, 1917). Awalnya Habib Muhammad mengadakan maulid di Jatiwangi, Cirebon sebelum memindahkannya ke Bogor. Meskipun demikian habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi pada awalnya tidak menyatakan secara jelas terkait kitab maulid yang dibaca oleh beliau. Masa hidup beliau yang singkat, hanya berselang dua tahun setelah wafatnya sang guru yakni habib Muhammad Al-Habsyi tapi memberikan cukup pengaruh terhadap antusiasme masyarakat untuk membaca maulid simtuddurar.

Setelah sekian lama tinggal di Jakarta, Habib Muhammad berpindah ke Surabaya karena ada beberapa hal, dan kemudian menyelenggarakan pembacaan maulid simtuddurar ini hingga beliau wafat pada tahun 1917. Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi setelah mendapatkan izin dari keluarga habib Muhammad.

Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi merupakan salah satu murid kesayangan Habib Ali Al-Habsyi pengarang Simthud Durar. Hubungan beliau berdua begitu dekat karena beliau sejak umur 11 tahun memperdalam agama di Hadramaut yang mana salah satu gurunya adalah Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi.

Setelah izin dari keluarga Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi didapatkan, Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi langsung menyelenggarakan maulid simtuddurar di kantor pusat Jamʿiyyat al-Khayr Jakarta yang merupakan awal mula perjalanan beliau melanjutkan tradisi ini sebelum berpindah ke Masjid yang beliau dirikan di Kwitang, Jakarta. Pasca wafatnya habib Ali, tradisi pembacaan maulid simtuddurar dilanjutkan oleh keturunannya yakni habib Alawi bin Ali Al-Habsyi yang berkelana ke berbagai pelosok Nusantara dan menetap di Surakarta. Kemudian setelah wafatnya Habib Alwi, tradisi maulid Simthud Durar dilanjutkan oleh sang putra, Habib Anis bin Alwi al-Habsyi dan wafat pada tahun 2006. Pada masa habib Anislah perayaan maulid Nabi dengan menggunakan kitab simtuddurar semakin dikenal oleh umat Islam Indonesia, lebih khususnya di Surakarta.