News

Virtual Studium General I Fakultas Ushuluddin dan Filsafat

Virtual Studium General I Fakultas Ushuluddin dan Filsafat

“Gerakan Dakwah Salafisme dan Fenomena Matinya Kepakaran”

Zoom meeting (14/9/2021). Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) lagi-lagi kembali menyelenggarakan kenduri gagasan, silaturahim intelektual, sekaligus proposal pemikiran bagi Bangsa Indonesia secara virtual. Tidak kurang dari 1000-an partisipan ikut bergabung dalam event ini, melalui link zoom dan channel YouTube. Acara ini menghadirkan dua speaker ternama KH. Robikin Emhas (Stafsus Wakil Presiden Bidang Politik dan Hubungan Antar Lembaga) bersama Dr. Kholid Syeirazi (Sekjen Ikatan Sarjana NU). Meski ditujukan untuk warga kampus FUF dan UINSA, acara ini tetap menarik disimak masyarakat umum.

Dekan FUF, Prof. Kunawi Basyir, M.Ag membuka acara dengan berpesan kepada seluruh mahasiswa untuk tetap semangat belajar, menelaah, dan mengkaji isu-isu keagamaan serta kebangsaan meski di masa pandemi. Semangat ini diaharapkan mampu diolah menjadi luaran sumbangan pemikiran yang secara akademik dapat disalurkan melalui jurnal ilmiah. Lebih lanjut, sekaligus bertindak membuka diskusi, Rektor UINSA, Prof. H. Masdar Hilmy, MA., Ph.D. juga tidak lelah mengingatkan, bahwa pengayaan akademis pada topik-topik keagamaan merupakan modal tak ternilai bagi penguatan corak kebangsaan muslim Indonesia yang wasatiyah.

Dibuka secara apik oleh moderator, Laili Bariroh (Sekretaris Jurusan Pemikiran Islam FUF), jamaah virtual langsung diajak menyiapkan diri oleh Dr. Kholid Syeirazi untuk memahami secara matang apa yang dimaksud fenomena matinya kepakaran atau the death of expertise. Secara sangat jernih dan sistematis, speaker pertama ini berusaha mengajak hadirin untuk mencerna bagaimana fenomena salafisme lahir serta bagaimana risiko keberadaannya bagi bangunan keberagamaan dan keberbangsaan Indonesia. Beliau mengingatkan bahwa salafisme tidak dibangun pada masa keemasan salaf (Nabi-Sahabat Nabi, Tabi’in, dan Tabi’u al-Tabi’in). Salafisme ini justru kesulitan memahami bahwa pada masa-masa tersebut sumber pengetahuan keislaman sejatinya kaya dan beragam.

Dari speaker kedua, KH. Robikin Emhas, hadirin juga disuguhi penguatan yang tidak kalah berkualitas. Bagi beliau, pengabaian pada persoalan kepakaran akan berkembang pada ancaman pada runtuhnya peradaban. Lebih lanjut dijelaskan bahwa proses berpengetahuan yang memotong jalan dengan tidak menggunakan sanad keilmuan agama, yang biasa dipraktikkan kelompok-kelompok puritan, akan mendorong kepada cara berpikir yang tidak siap pada perbedaan. Khasanah keilmuan yang mendalam dan meluas dengan banyak madzhab dari para ulama salaf al-shalih akan membentengi pemahaman kita dari sikap keras dan tidak moderat. Menolak sumber lain dan hanya berpegangan pada satu sumber yang bercorak monolitik, apalagi dilakukan secara otodidak dan ‘galak’ maka akan menggelisahkan menjadi ancaman serius bagi kemanusiaan dan kebangsaan.