News

Usung Tema Overthinking About My Future, MD Talks 4.0 Hari Kedua Undang Founder Ruang Aksi Milenial dan Dosen Psikologi

Usung Tema Overthinking About My Future, MD Talks 4.0 Hari Kedua Undang Founder Ruang Aksi Milenial dan Dosen Psikologi

Seminar MD Talks 4.0 hari kedua yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himaprodi)Manajemen Dakwah Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) mengusung tema “Overthinking About My Future” dilaksanakan secara online melalui Zoom Meeting pada Sabtu (24/9). Pada seminar daring ini Himaprodi Manajemen Dakwah mengundang dua narasumber sekaligus. Narasumber pertama adalah Norafika Virly, S.Psi.,seorang freshgraduate dari program studi Psikologi UINSA sekaligus founder Ruang Aksi Milenial. Sedangkan narasumber kedua diisi oleh Hengki Hendra Pradana, S.Psi, M.Psi selaku dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Blitar.

Materi pertama disampaikan oleh Nora mengenai overthinking. Wanita yang penuh dengan prestasi ini menyampaikan tentang apa itu overthinking, hingga hal yang menyebabkan seseorang dapat selalu overthinkingterhadap sesuatu. Menurut Nora, Overthinking merupakan hal yang wajar dialami setiap orang, namun sebisa mungkin kita harus menghentikan overthinking yang berlebihan. “Salah satu tips yang bisa dilakukan ketika overthinking adalah dengan merubah pikiran negatif tersebut dengan pikiran yang positif, istirahat, tidak membandingkan diri dengan orang lain, dan berhenti sejenak dari semua aktivitas dan melakukan sesuatu yang menyenangkan untuk diri sendiri alias me time,” ujarnya.

Pada sesi pertanyaan, peserta melontarkan kepada Nora mengenai bagaimana cara me time yang baik dan bermanfaat. Menariknya, Nora menjawab pertanyaan tersebut dengan membagikan beberapa tips yang mudah untuk diterapkan. Menurutnya, me time dapat dilakukan dalam aktivitas keseharian kita, mulai dari olahraga, menonton film, traveling, hingga membeli makanan atau barang yang disukai. “Kalian juga coba menyisihkan sedikit demi sedikit uang untuk me time agar nantinya setelah me time kita tidak stres karena kehabisan uang hanya untuk me time,” sarannya.

Pada akhir sesi, Nora berpesan untuk tidak terlalu membandingkan pencapaian diri sendiri dengan pencapaian orang lain karena waktu sukses setiap orang itu berbeda. “Lakukan hari ini sebaik mungkin serta tetap berusaha, berdoa, dan belajar,” tambahnya.

Memasuki penyampaian materi kedua, Hendra yang berprofesi sebagai dosen muda ini membahas tentang “Quarter Life Crisis”. Quarter life crisis atau QLC ini dialami oleh orang yang berada pada usia 18-30 tahun. Fase yang diidentikkan sebagai proses pencarian jati diri dinilai menjadi fase yang cukup berat untuk dilalui. Dosen lulusan Universitas 17 Agustus Surabaya ini juga menjelaskan beberapa faktor terjadinya QLC ini. “Patah hati karena urusan cinta, tidak percaya dengan kemampuan yang dimiliki, masalah pekerjaan, tekanan dari ekspektasi dari orang lain, hingga overthinking tentang masa depan yang belum tentu terjadi,” sebutnya.

Di sela-sela menyampaikan materi tak lupa Ia memberikan tips untuk peserta seminar dalam menangani fase ini. “Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menghadapi QLC ini, di antaranya dengan mengenali diri sendiri melalui self-love, menerima bahwa fase ini hal yang wajar dan normal dihadapi semua orang, memilih lingkungan yang positif, berhenti membandingkan diri dengan orang lain, mengembangkan minat dan bakat, membuat perencanaan jangka pendek dan jangka panjang untuk diri sendiri, serta mencoba hal-hal yang baru,” ujarnya.

Jika dihubungkan, kedua materi yang disampaikan oleh narasumber ini saling berkaitan, di mana sebagai seorang mahasiswa pastinya memasuki masa Quarter Life Crisis juga dihadapkan dengan overthinking yang ada. Dengan begitu, adanya kegiatan ini dapat mencerahkan mahasiswa untuk mengatasi hal tersebut. (Lisa/Syifa’)