News

SELAMAT! JIIs UINSA BERTAHAN DI Q1 NILAI SJR MENINGKAT VERSI SCIMAGO JR 2021

SELAMAT! JIIs UINSA BERTAHAN DI Q1 NILAI SJR MENINGKAT VERSI SCIMAGO JR 2021

UINSA Newsroom, Kamis (12/05/2022); “Rektor dan segenap Keluarga Besar UIN Sunan Ampel Surabaya mengucapkan selamat dan sukses kepada Journal of Indonesian Islam (JIIs) atas keberhasilannya mempertahankan posisi quartile terbaik (Q1) dengan SJR 0,286 (sebelumnya, di tahun 2020 0,254) dalam bidang Religious Studies, History  dan Cultural Studies.”

Hal itu disampaikan Rektor UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Prof. H. Masdar Hilmy, S.Ag., M.A., Ph.D., menyusul capaian JIIs sebagai Jurnal terbaik kedua di kalangan PTKIN. Terdapat empat Jurnal PTKIN yang menempati  posisi Q1 di tahun 2021, yaitu Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies (IJIMS)-IAIN Salatiga (Q1) dengan SJR 0.383; Journal of Indonesian Islam (JIIs)-UINSA (Q1) dengan SJR 0.286; Qudus International Journal of Islamic Studies (QIJIS)-IAIN Kudus (Q1) dengan SJR 0.274;  Studia Islamika-UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan SJR 0.193.

Executive Editor JIIs, Dr. Phil. Khoirun Niam menjelaskan, Scimago JR melakukan perangkingan jurnal-jurnal yang terindeks di Scopus dengan mengkategorikan dalam empat kelompok (Quartile) yaitu Q1, Q2, Q3 dan Q4 berdasarkan kelompok bidang ilmu yang dinaungi jurnal. Capaian Q1 JIIs di tahun 2021 merata di semua subject area yang dinaungi JIIs. Semua berada pada posisi Q1. Berbeda dengan Jurnal PTKI lain yang tidak seluruh bidang keilmuannya berada pada level Q1. IJIMS, IAIN Salatiga misalnya, hanya bidang Religious Studies saja yang Q1, sementara bidang lainnya berada pada level Q2. QIJIS, IAIN Kudus dari 4 bidang keilmuan yang dinaungi terdapat 3  di level Q1 dan 1 bidang ilmu di level Q2. 

Lebih lanjut Dr. Niam menuturkan, bahwa capaian Q1 JIIs merupakan buah dari kerja tim yang panjang. Sejak proses menggagas jurnal yang dimulai 2005, JIIs baru bisa terbit perdana pada tahun 2007. Tahun 2016 JIIs terindeks Scopus. Tetapi yang patut disyukuri adalah dokumen JIIs sejak tahun 2007 terdapat di database Scopus. Sehingga laman JIIs di Scopus disebut caverage years indeksasinya sejak tahun 2007.

Selain itu, Jurnal yang diterbitkan Lembaga Studi Agama dan Sosial (LSAS) dan Program Pascasarjana (PPS) UINSA ini memiliki latar belakang esensial. "Kami ingin dunia melihat wajah Islam Indonesia secara scientific-objektif, serta untuk mengisi rak-rak akademis di berbagai perpustakaan dunia dengan informasi mengenai dunia Islam dari ilmuan Islam,” terang Dr. Niam.

Lulusan Institut fuer Islamwissenchaft, Freie Universitaet, Berlin, Jerman ini berharap, agar kedepan JIIs dapat merambah indeksasi jurnal pada skala yang lebih tinggi. Harapan lainnya, tentu agar capaian ini bisa ditingkatkan untuk tahun-tahun mendatang, khususnya nilai SJRnya. “Kami tentu bangga dengan capaian JIIs. Ini merupakan kenikmatan tak terhingga dari kerjasama teamwork yang sejak awal solid,” imbuh Dr. Niam.

Hal senada juga disampaikan Rektor, Prof. Masdar , alumni magister dari MacGill University, Canada dan Doktoral dari Melbourne University, Australia. Rektor yang juga tercatat sebagai salah satu Editorial Board JIIs ini mengungkapkan rasa bangga sekaligus mengapresiasi capaian tertinggi tersebut. Rektor berharap, capaian JIIs dapat menginspirasi jurnal-jurnal lain di Lingkungan UINSA agar semakin berkembang dan produktif.

Kendati diakui, ghirah kepenulisan jurnal belum sepenuhnya menjadi habit dan kebutuhan. Namun Rektor percaya, bahwa Jurnal merupakan kebanggaan dan ruh dari kampus.

Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA,M.Phil, Ph.D., selaku Editor in Chief JIIs menegaskan, bahwa  mengelola jurnal internasional bereputasi merupakan kegiatan yang mengasyikkan. “Dibutuhkan dua seni tersendiri, seni tata kelola jurnal dan seni kepenulisan artikel ilmiah. Jika dua itu hadir dengan baik, mencapai rekognisi lebih tinggi melalui status quartil dan SJR yang lebih tinggi bukan sesuatu yang mengejutkan. Dan meningkatnya SJR JIIs kali ini adalah hasil kerja keras pengelola dengan dua skill terukur dimaksud. Rekognisi itu patut disyukuri melalui peningkatan penjaminan mutu dari dua sisi keterampilan teknis tata kelola dan akademis di atas,” ujar Prof. Muzakki.

Lebih lanjut Muzakki menjelaskan capaian ini merupakan bentuk apresiasi lembaga internasional yang harus dijadikan sebagai cambuk untuk lebih serius dalam mengelola JIIs ke depan.

‘Buah dedikasi tim,’ begitulah capaian tertinggi ini disebut. Prof. Muzakki dalam rekam jejaknya menggawangi pengelolaan JIIs pun mengakui beratnya menjadi editor jurnal internasional bereputasi. “Sangat biasa sekali (pada awal terbit dulu), jika editor harus menjadi tukang jahit. Kadang hanya perbaiki sebagian. Kadang harus menjahit agak banyak. Itu semua dilakukan agar tulisan sesuai dengan standar artikel jurnal internasional bereputasi. Karena itu tugas editor berat sekali,” kisah Editor in Chief JIIs yang juga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UINSA tersebut. Saat ini begitu banyak artikel masuk, sehingga redaksi mempunyai keleluasaan memilih artikel terbaik untuk dapat diteruskan ke reviewer.

Namun, penat dan keluh kesah pengelola pun terbayar dengan apresiasi hebat itu. Karenanya, Prof. Muzakki menyampaikan, bahwa sesungguhnya pengelola JIIs memang tidak perlu jumawah (sombong, red) tapi tetap layak diacungi apresiasi. “Bantulah kami semua pengelola untuk konsisten menjaga profesionalisme. Sebab, apresiasi tertinggi Q1 itu bukan main-main. Semua perlu memahami tugas berat mengelola jurnal Q1 itu,” harap Prof. Muzakki.

Alumnus magister dari The Australian National University (ANU) Canberra Australia dan doktoral di Quensland University ini pun tak segan menyebut para pegiat jurnal sebagai orang ‘gila’ dengan mental pejuang. Karena menurut Prof. Muzakki, hanya orang ‘gila’ yang hadir dalam komitmen tinggi mengelola jurnal. Si ‘gila’ pejuang dengan mental akademik yang tinggi serta profesionalisme yang kuat.

Kedepan, Prof. Muzakki memiliki harapan menjadikan JIIs sebagai referensi sekaligus bacaan wajib bagi peminat kajian Islam Indonesia. Sehingga materi publikasi hingga kualitas pengelolaan perlu menjadi perhatian utama. Mulai dari peningkatan tata kelola hingga peningkatan mutu SDM pengelolanya. “UINSA menjadi bukti bahwa PTKI bisa hebat melalui publikasi bereputasinya. Sisanya adalah dukungan pimpinan sebagai proteksi untuk menjaga profesionalisme pengelolaan jurnal. Yang lain adalah tugas semua untuk menjaga agar jurnal ini terus bisa menjamin mutu terbitannya,” tukas Prof. Muzakki. (NM/JIIs)